Recent Post

Friday, 1 January 2016
2016, Gerakan Budi Pekerti Digalakkan

2016, Gerakan Budi Pekerti Digalakkan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melakukan pendisiplinan gerakan penumbuhan budi pekerti mulai tahun ini.

Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, penumbuhan budi pekerti akan dilakukan secara sistemik. Proses pembiasaan dalam penumbuhan budi pekerti itu tidak hanya dilakukan dalam kegiatan kurikuler, melainkan juga melalui kegiatan nonkurikuler sesuai Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
UKG Jadi Cermin Kemajuan Pendidikan Indonesia

UKG Jadi Cermin Kemajuan Pendidikan Indonesia

Menteri Pendidikan dann Kebudayan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, penyelenggaraan Uji Kompetensi Guru (UKG) yang diikuti oleh 2,9 juta guru di seluruh Indonesia yang telah berlangsung selama satu bulan pada November 2015 menjadi cermin bagi para guru untuk mengembangkan potensi sesuai dengan kebutuhan.
Wednesday, 30 December 2015
Mendikbud Tegaskan K-13 Tetap Berlaku

Mendikbud Tegaskan K-13 Tetap Berlaku

Beberapa waktu yang lalu, beredar bahwa kurikulum K-13 telah berganti nama menjadi K-N (Kurikulum Nasional), menaggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menegaskan tidak ada perubahan nama dalam kurikulum 2013. Kurikulum nasional bukan merupakan nama, dan tetap dipakai K-13.
Mendikbud: Semester Depan Sekolah Wajib Terapkan Budi Pekerti

Mendikbud: Semester Depan Sekolah Wajib Terapkan Budi Pekerti

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan menginterilisasi nilai-nilai positif dalam diri siswa di sekolah semester depan pada tahun ajaran 2015/2016 melalui program Penumbuhan Budi Pekerti di setiap sekolah. Dalam artian, setiap sekolah wajib untuk menerapkan program ini sebagai pendidikan pembiasaan melalui kegiatan nonkurikuler.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, penumbuhan budi pekerti yang telah dimulai pada tahun ajaran 2015/2016 pada semester awal yang ditegaskan melalui Permendikbud No 23/2015 tentang penumbuhan Budi Pekerti.

"Semester ini baru tahap sosialisasi dengan cara mengembalikan kebiasan Upacara Bendera di sekolah dan mengawali serta mengakhiri kelas dengan suasana religius dan kebangsaan," kata Pendiri Indonesia Mengajar di Jakarta, Rabu (30/12).

Dia menambahkan, program ini untuk mengatur pembiasaan sikap dan perilaku positif siswa di sekolah.

Selain upacara bendera, pada program ini siswa akan mengawali proses belajar dengan membaca 15 menit. Siswa diberi kebebasan membaca bacaan yang disukainya tetapi bacaan tersebut sesuai dengan anak-anak.

Menurut Alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) ini, minat membaca kita masih rendah. Program membaca tersebut tujuannya untuk menuntaskan angka buta aksara. Meskipun secara nasional angka buta aksara Indonesia sangat sedikit tetapi ada tiga kabupaten/ kota seperti Karawang, Jember, dan Papua yang masih tinggi angka buta aksaranya, maka tantangan terbesar saat ini adalah menumbuhkan kebiasan membaca.
1 Tahun Mendikbud:  Program yang Kami Jalani Efektif, Efisian, dan Tepat Sasaran,

1 Tahun Mendikbud: Program yang Kami Jalani Efektif, Efisian, dan Tepat Sasaran,

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membuat kilasan setahun kinerja Kemdikbud mulai November 2014- November 2015. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswdan mengatakan, selama setahun Kemdikbud telah melalukan restrukturisasi, rekrutmen untuk menjalankan program-program yang telah dicanangkan dengan menghabiskan anggaran Kemdikbud hingga saat ini sebesar 93 %.
FGSI Nilai Program Kemdikbud Masih Bersifat Ritual

FGSI Nilai Program Kemdikbud Masih Bersifat Ritual

Dewan Pembina Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI) Doni Koesoma mengatakan, program-program yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sejauh ini masih bersifat ritual dan tidak membangun sustainabilitas secara sistem.

Dia menilai, program seperti guru garis depan (GGD), belajar bersama maestro (BBM), atau kawah kepemimpinan pelajar, semuanya hanya berupa program pelatihan terputus, tanpa ada kelanjutan dan dukungan dalam sistem.

“Seharusnya pemerintah melakukan program yang sustinabilitas karena program seperti BBM tidak secara langsung menjaring anak-anak terbaik. Padahal seharusnya program itu dapat dimanfaatkan oleh semua orang,” kata pendiri Pendidikan Karakter Education Consulting itu kepada SP, Selasa ( 29/12) sore.

Dia menambahkan, jika tahun depan pemerintah masih memberi dana untuk membiayai lomba-lomba olimpiade dan lain-lain, maka semakin menunjukkan ketidakadilan. Sebab, yang memperoleh manfaat dari lomba-lomba seperti itu hanya satu atau dua orang saja. Supaya tidak hanya menjadi sebuah ritual, pemerintah harus membuat kebijakan yang membangun budaya sekolah.

Doni menjelaskan, kebijakan membangun budaya sekolah ini terkait dengan aturan dan juga terkait dengan sistem kurikulum yang sedang diterapkan saat ini.

Selanjutnya dia menyebutkan ada tiga hal yang harus dibenahi pemerintah. Pertama, kebijakan tentang kriteria ketuntasan minimal (KKM). Selama ini, kebijakan KKM tidak menunjukkan fungsinya secara benar seperti yang ada dalam buku pedoman KKM. Sebab dengan adanya KKM, masing-masing sekolah menjadi jor-joran meningkatkan KKM.

Misalkan KKM nilai biologi dalam rapor delapan maka, siswa harus mencapai standar tersebut meskipun siswa tidak mampu. “Maka KKM di lapangan membuat anak-anak malas karena ujung-ujungnya nilai tetap di atas KKM,” kata dia.

Dia menambahkan, KKM juga sangat berpengaruh untuk sekolah negeri khususnya anak kelas tiga. Jika nilai tidak mencapai KKM, siswa tidak dapat mengikuti ujian nasional (UN) sehingga sekolah mau tidak mau harus meningkatkan poin siswa agar sesuai dengan KKM.

“Nah hal ini tidak mendidik, karena anak yang malas sengaja tidak mau belajar dan ini tidak membentuk karakter anak,” jelasnya.
Selain itu, KKM juga berpengaruh untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) via jalur undangan. Sebab, KKM akan membuat sekolah lebih mengutamakan peningkatan nilai siswa daripada membentuk karakter siswa

Kedua, terkait penilaian sikap. Menurut Doni, ke kedepannya, pemerintah harus mengubah penilaian sikap yang masih mengunakan huruf tanpa ada penjelasan. Sebab, seharusnya penilaian sikap harus objektif.

“Jika sikap dalam rapor diberi penilaian B sebagai standar minimal kenaikan kelas, maka anak-anak nakal dan tidak nakal sulit kita bedakan. Seharusnya objektif biar dia pintar jika nakal nanti akan sadar diri,” ujarnya.

Dia menambahkan, berdasarkan pengalaman, masih banyak sekolah yang belum berani menampilkan sikap anak sesuai kenyataan hanya sekolah- sekolah dengan indeks integritas baik yang berani.

Ketiga, kebijakan remedial, menurutnya tidak menunjukkan proses pembelajaran menjadi lebih baik. Sebab, anak-anak tidak akan malu dan tidak ada peningkatan minat belajar karena siswa mengedepankan remedial untuk mencapai standar KKM.

Sumber; beritasatu
Hasil UKG Bukan Akhir Segalanya

Hasil UKG Bukan Akhir Segalanya

Pelaksanaan Uji Kompetensi Guru dilaksanakan mulai pada bulan november lalu, dan untuk Uji Kompetensi susulan dilaksanakan pada pertengahan Desember lalau, Untuk Uji Kompetensi Guru (UKG) Susulan Telah usai beberapa hari lalu. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan menungkapkan, sebanyak 3.805 guru yang telah mengikuti uji kompetensi guru (UKG) mampu mencapai nilai rata-rata di atas 91.
Tuesday, 29 December 2015
Dana BOS Tak Cair, 11 Sekolah Ngutang

Dana BOS Tak Cair, 11 Sekolah Ngutang

Nasib sebelah sekolah dasar negeri (SDN) di Surabaya terkatung-katung. Jangankan membuat laporan surat pertanggungjawaban (SPj), menerima dana bantuan operasional sekolah (BOS) triwulan IV saja, mereka belum. Padahal, akhir tahun sudah tinggal menghitung hari. Jika tak kunjung cair, dana BOS triwulan IV terancam hangus.
2016 Guru Honorer Terancam Tak Gajian

2016 Guru Honorer Terancam Tak Gajian

 Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Simalungun mendorong penghapusan anggaran Rp 96 miliar untuk gaji ribuan honorer dari Rancangan APBD 2016.

Menyikapi hal tersebut, beberapa honorer di jajaran Dinas Pendidikan Simalungun berharap DPRD Simalungun jangan serta merta mencoret anggaran untuk honorer. Pasalnya, tenaga ribuan guru honorer di Simalungun sangat dibutuhkan di sekolah negeri, terutama sekolah dasar (SD).
Anggaran untuk Gaji Honorer Terancam Dicoret

Anggaran untuk Gaji Honorer Terancam Dicoret

Nasib tenaga honorer sungguh menyedihkan. Kepastian pengangkatan menjadi CPNS belum juga jelas, kini ditambah lagi dengan masalah penggajian.

Setidaknya ini terjadi di Pemkab Simalungun, Sumut.  Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Kabupaten Simalungun setuju menghapus anggaran Rp 96 miliar untuk gaji ribuan honorer dari Rancangan APBD 2016. Jika akhirnya penghapusan anggaran itu disetujui, entah bagaimana nasib honorer.
Monday, 28 December 2015
Menjadi Mendikbud, Anies Dinilai Tak Bisa Apa-apa

Menjadi Mendikbud, Anies Dinilai Tak Bisa Apa-apa

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih, Adhie Massardi menilai menteri sekaliber Anies Baswedan kehilangan orientasi dalam menjalankan misi membenahi sektor pendidikan di Indonesia.

“Anies tidak bisa apa-apa. Sampai sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa,” kata dia di Jakarta, Selasa (29/12/2015).

Padahal, katanya, sebelum menjabat menteri pendidikan dan kebudayaan, Anies seolah-oleh paham betul tentang pendidikan dan tahu dari mana harus memperbaikinya. Namun, saat menjabat sejumlah persoalan pendidikan tak mampu dia tuntaskan.

"Padahal, (kementerian yang membidangi, red) pendidikan sudah dipecah," jelas dia.

Adhie berbicara tentang hal tersebut menyikapi isu reshuffle jilid 2 yang dikabarkan akan dilakukan awal tahun 2016.

Sebelumnya, Jubir Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001) itu mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo sudah harus membuat suatu kabinet yang 100 persen terdiri dari orang-orang pilihannya. Dia juga menyebut bahwa Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri ESDM Sudirman Said sebagai menteri yang paling layak dicopot. 

Sumber: rimanews
Guru Hebat Karena Murid

Guru Hebat Karena Murid

Mudah kita jumpai ungkapan yang menyebut jika murid bukanlah apa-apa tanpa bantuan guru. Guru di sini tentu pendidik dalam arti sesungguhnya, bukan sekadar profesi yang kerjanya mengajar di kelas. Untuk guru yang disebut belakangan, yang secara profesional bekerja di institusi formal, seperti sekolah, kampus (biasanya disebut dosen) dan sejenisnya, situasinya bisa saja terbalik, yakni murid/mahasiswalah yang mendahsyatkan guru/dosennya.

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa guru tak disebut istimewa tanpa menghasilkan murid yang hebat. Oleh sebab itu, murid yang menghebatkan dirinya, dengan atau tanpa bantuan guru formalnya, secara otomatis membantu membuat orang yang secara akademik menjadi pengajarnya itu tampak jempolan.

Contoh kecil guru perlu bantuan supaya tampak hebat adalah saat murid akting tertawa ketika pengajarnya melontarkan lawakan yang sebenarnya sangat garing. Di situasi ini, guru seolah-olah telah berhasil menjadi komedian paling lucu sedunia.

Murid juga sering akting paham dengan duduk khusyuk kala mendengarkan ceramah guru. Padahal, sel-sel syarafnya entah bergeliat untuk berpikir apa. Pada kondisi ini, bisa jadi guru mengira memiliki kemampuan public speaking dan mutu bicara tingkat dewa sehingga selalu memukau siapa pun.

Tak sedikit pula kita jumpai sejumlah murid yang belajar keahlian khusus di komunitas informal, organisasi eksternal sekolah/kampus, atau di tempat-tempat kursus sehingga menjadi luar biasa, lalu gurunya di kelas dengan bangga mengklaimnya sebagai anak didik yang berhasil karena mengikuti ajarannya. Bagi orang awam yang tidak tahu kondisi sesungguhnya, pun mereka bisa serta-merta langsung memuji sang guru sebagai maharesi yang taktis mendidik.

Di sini, murid tersebut benar-benar telah membantu membuat gurunya tampak super. Diterima sebagai kebenaran umum bahwa guru yang baik adalah mereka yang mendudukkan murid di level terbaik. Murid yang pandai langsung berasosiasi dengan guru yang mumpuni. Sayangnya, jika murid berlaku kriminal, sering kesalahan ditimpakan ke dirinya sendiri, tanpa melibatkan kebobrokan guru.

Sebenarnya, guru di level top sekali pun tak akan berdaya jika murid sepakat untuk cuek apalagi melawan. Jika para murid ini kompak mempersulit atau menjatuhkan nama guru, cukup dia berperilaku berseberangan dengan harapan orang.

Oleh karena itu, guru seharusnya banyak berterima kasih kepada murid karena telah membuatnya hebat, dengan menjadi anak didik yang baik dan berprestasi. Hal semacam ini perlu diingatkan karena, rupanya, banyak guru yang bersorak-sorai sendiri setelah dirinya disebut hebat atau dapat cap guru teladan. Dia lupa bahwa kehebatannya tak akan pernah lepas dari bantuan murid.

Tulisan ini tidak hendak membuat murid besar kepala atau mendiskreditkan guru. Hanya saja, supaya menjadi peringatan bagi guru bahwa anak didik bukanlah lempung yang bisa dicetak dan dibentuk semaunya. Tidak sedikit dalam misi sebuah sekolah tertulis ungkapan, umpamanya, mencetak murid yang seperti ini dan itu.


Jadi, seolah-olah jika murid menjadi ini dan itu, semata-mata karena hasil kerja guru; dan, jika guru didaulat jadi pengajar nomor wahid, sepertinya murni karena kemampuannya mengajar, tanpa bantuan murid. Kesuksesan, jenis apa pun, adalah hasil kerja bersama. Murid sukses adalah gabungan dari kerja murid, guru, orang tua dan lingkungan. Keberhasilan guru juga gabungan dari kinerja guru tersebut, murid dan lingkungan tempat dia bekerja.

Akhirnya, berterimakasih bukan hanya menjadi monopoli murid untuk guru, tetapi juga dari guru ke murid. Jika Anda guru yang hebat, silakan berterimakasih ke murid yang telah membuat Anda di posisi demikian. Sebaliknya, jika kalian murid cemerlang, di situ ada guru yang membantu.

Sumber: rimanews
Moratorium Penerimaan CPNS Hingga 2019

Moratorium Penerimaan CPNS Hingga 2019

Bersabarlah bagi yang ingin jadi PNS, pasalnya ada Kabar tidak mengenakkan bagi para peminat kursi CPNS. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) menetapkan bahwa moratorium penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) masih akan berlangsung hingga tahun 2019.
Sunday, 27 December 2015
Penerimaan CPNS 2016 Untuk Jalur Umum Belum Jelas

Penerimaan CPNS 2016 Untuk Jalur Umum Belum Jelas

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten OKU Selatan Joni Rafles menerangkan, pihaknya belum mengambil langkah terkait penerimaan CPNS 2016. Dia memastikan masih berpegang pada surat edaran kebijakan moratorium penerimaan CPNS yang datang dari pusat.

Dikatakan, untuk melakukan perekrutan pegawai dari jalur umum masih harus menunggu petunjuk dari pemerintah Pusat.
AWAS!!! Ada Info Sesat Jadwal Seleksi CPNS 2016

AWAS!!! Ada Info Sesat Jadwal Seleksi CPNS 2016

Kabar penerimaan CPNS 2016 kembali merebak di media sosial. Informasi menyesatkan ini semakin gencar beredar menjelang pergantian tahun.

Menanggapi ini, ‎Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi  (KemenPAN-RB) Dwi Wahyu Atmadji mengatakan, sampai saat ini pihaknya maupun Badan Kepegawaian Negara (BKN) belum menyusun jadwal seleksi ataupun penerimaaan CPNS tahun 2016.
Kejari: Kepsek Jangan Sembarang Gunakan Dana BOS

Kejari: Kepsek Jangan Sembarang Gunakan Dana BOS

Kejaksaan Negeri (Kejari) Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, mengingatkan kepala sekolah dalam penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) agar taat dan patuh terhadap peraturan.
"Pengguna anggaran jangan sampai menabrak aturan karena dampaknya bermuara ke ranah hukum," kata Kepala Kejari Tigaraksa Firdaus di Tangerang.
Karakter Guru Yang Baik dalam Pandangan Islam

Karakter Guru Yang Baik dalam Pandangan Islam

Sebuah Pribahasa Jawa mengatakan bahwa GURU adalah orang yang DIGUGU dan DITIRU artinya guru adalah orang yang di percaya dan diikuti, maksud dari peribahasa tersebut adalah seorang guru harus mampu memberikan kepercayaan dirinya kepada setiap masyarakat dan menjadi contoh atau tauladan dari segala perilakunya. maka dari peribahasa tersebut, profesi seorang guru tidaklah mudah, ia harus mampu mencerminkan nilai-nilai perilakunya terhadap para siswa dan lebih luasnya adalah kepada masyarakat secara umum.
Copyright © 2013 Info Pendidikan All Right Reserved