Tuesday, 16 September 2014

Makalah. Modal Sosial

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Ketika bangsa kita mengalami berbagai perubahan sosial sebagai akibat dari aneka krisis yang menimpa (krisis moneter, krisis politik, krisis kepercayaan, dan lain-lain) tampaknya semua karakter sosial yang melekat dalam diri kita dan pernah diagung-agungkan itu, mulai berangsur-angsur hilang dan bahkan kita mulai menampakkan karakter sosial yang bengis dan menakutkan. Hal itu nampak paling transparan dalam bentuk tindakan-tindakan yang destruktif yang dilakukan kita manusia terhadap sesama yang ada di sekitar kita seperti, benturan, konflik, kekerasan, pembunuhan, pembakaran, penjarahan, pemerkosaan, penculikan, terorisme, dan lain-lain.

Tindakan-tindakan destruktif seperti itu tentu akan mengacak-ngacak modal sosial (social capital) yang telah kita miliki. Modal sosial yang di dalamnya terdiri atas norma-norma sosial yang seharusnya terpelihara dan terjaga kelanggengannya sekarang telah teracak-acak oleh aktivitas-aktivitas manusia yang lebih tidak beradab. Otonomi Daerah yang kehadirannya dimungkinkan untuk dapat memupuk modal sosial, belum berperan banyak untuk menumbuhkan rasa solidaritas, kejujuran, keadilan, kerjasama, dan sebagainya. Karena itu, sekarang harus ada upaya untuk menumbuhkembangkan lagi modal sosial yang semakin menipis ini dalam institusi lokal yang merupakan cikal bakal terbentuknya insitusi global.
B.     Rumusan Masalah
1. Apa faktor apa saja yang menjadi permasalahan modal sosial pendidikan indonesia.
2. Interaksi apa saja yang menjadi modal sosial pendidikan.
3. Bagaimana solusi problimatika modal sosial pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Modal Sosial 
Pengertian Modal Sosial Menurut Tokoh – Tokoh
1.   Menuerut Piere Bourdieu
Konsep modal meski merupakan khasanah ilmu ekonomi tetapi tetap dipakai oleh Bourdieu karena beberapa cirinya yang mampu menjelaskan hubungan – hubungan kekuasaan:
a.       Modal terakumulasi melalui investasi
b.      Modal sosial diberikan kepada yang lain melalui warisan
c.       Modal dapat memberikan keuntungan sesuai dengan kesempatan yang dimiliki oleh pemiliknya untuk mengoprasikan penempatannya
2.      James S Coleman
Coleman tidak memberikan definisi modal sosial dalam rumusan kalimat, modal sosial didefinisikan dengan fungsinya. Modal sosial bukan entitas tunggal tetapi terdiri dari aspek struktur – struktur sosial dan menfasilitasi tindakan – tindakan tertentu dari aktor apakah perorangan atau badan hukum tertentu. Artinya bukan struktur sosial yang paling di sini, melainkan fungsinya.
3.      Rnadall collin
Melakukan kajian tentang apa yang ia sebut sebagai fenomena mikro dari interaksi sosial yaitu norma dan jaringan yang sangat berpengaruh pada kehidupan organisasi soisal. Aturan yang terbentuk dalam masyrakat akan menajdi dasar yang kuat dalam setiap proses tarnsaksi sosial.
4.      Robert D Putnam
Putnam menggambarkan modal sosial sebagai corak organisasi sosial seperti keprcayaan, norma – norma dan jaringan yang dapat meningkatkan efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi tindakan bersama.
5.      Farncis Fukuyama
Dalam bukunya Tha Great Disruption modal sosial menunjukkan pada serangkaian norma informasi yang dimiliki bersama diantara para angota suatu kelompok yang memungkinkan terjadinnya kerjasama diantara mereka.ia membenci catatan bahwa nilai dan norma bersama itu tidak serta merta menjadi modal sosial ( ingat kisah mafioso ).
6.      Alejandro Portes
Modal sosial hasil dari ketrlekatan yaitu ketrlakatan antara individu sebagai kesatuan hubungan dengan orang lain karena kemampuan individu untuk memperoleh modal sosial tidak inheren di dalam individu. Karena kapasitas individu untuk mengatur ke;angkaan sumberdaya berdasarkan atas keanggotaan mereka di dalam jaringan atau struktur sosial yang lebih luas.
7.      Bank Dunia
Modal sosial sebagai yang merujuk ke dimensi institusional, hubungan – hubungan yang tercipta dan norma – norma yang membentuk kualitas dan kuantitas hubungan sosial dalam masyarakat. Modal sosial bukan sekedar deretan jumlah institusi atau kelompok yang menopang kehidupan sosial, melainkan dengan spektrum yang lebih luas sebagai perekat yang menjaga kesatuan anggota kelompok secara bersama – sama.
8.      Modal sosial sebagai suatu rangkaian proses hubungan manusia yang ditopang oleh jaringan norma – norma dan kepercayaan sosial yang memungkinka efisien dan efektifnya koordinasi dan kerjasama unutk keuntungan dan kebijakan bersama.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa modal sosial adalah suatu konsep dengan berbagai definisi yang saling terkait, yang didasarkan pada nilai jaringan sosial. Sejak konsepnya dicetuskan, istilah “modal sosial” telah digambarkan sebagai “sesuatu yang sangat manjur bagi semua masalah yang menimpa komunitas dan masyarakat di masa kini.
Modal sosial awalnya dipahami sebagai suatu bentuk di mana masyarakat menaruh kepercayaan terhadap komunitas dan individu sebagai bagian didalamnya. Mereka membuat aturan kesepakatan bersama sebagai suatu nilai dalam komunitasnya. Di sini aspirasi masyarakat mulai terakomodasi, komunitas dan jaringan lokal teradaptasi sebagai suatu modal pengembangan komunitas dan pemberdayaan masyarakat.
Modal sosial merupakan kekuatan yang mampu membangun civil community yang dapat meningkatkan pembangunan partisipatif, dengan demikian basis modal sosial adalah trust, idiologi dan religi. Modal sosial dapat dicirikan dalam bentuk kerelaan individu untuk mengutamakan keputusan komunitas, Dampak dari kerelaan ini akan menumbuhkan interaksi kumulatif yang menghasilkan kinerja yang mengandung nilai sosial.
Manusia belum disebut manusia yang sebenarnya, bila ia tidak ada dalam suatu masyarakat, karena itu pula maka manusia disebut sebagai makhluk sosial. Manusia pada dasarnya tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya dengan baik tanpa hidup bermasyarakat. Sejak lahir, manusia membutuhkan pertolongan manusia lain, sampai dewasa dan meninggal (dan dikubur), ia pun tetap membutuhkan manusia lain. Kemandirian manusia tidak diartikan sebagai hidup sendiri secara tunggal, tapi hidup harmonis dan adaptif dalam tatanan kehidupan bersama. Seperti yang dikemukakan oleh Fairchild (1980) masyarakat merujuk pada kelompok manusia yang memadukan diri, berlandaskan pada kepentingan bersama, ketahanan dan kekekalan/kesinambungan.
Kebersamaan, solidaritas, toleransi, semangat bekerjasama, kemampuan berempati, merupakan modal sosial yang melekat dalam kehidupan bermasyarakat. Hilangnya modal sosial tersebut dapat dipastikan kesatuan masyarakat, bangsa dan negara akan terancam, atau paling tidak masalah-masalah kolektif akan sulit untuk diselesaikan. Kebersamaan dapat meringankan beban, berbagi pemikiran, sehingga dapat dipastikan semakin kuat modal sosial, semakin tinggi daya tahan, daya juang, dan kualitas kehidupan suatu masyarakat. Tanpa adanya modal sosial, masyarakat sangat mudah diintervensi bahkan dihancurkan oleh pihak luar.
Sebenarnya ada dua macam modal sosial, sebagaimana diulas oleh McElroy Jorna dan Engelen (2006), yaitu modal sosial yang psiko-sentris, dan modal sosial yang sosio-sentris. Modal psiko-sentris berbentuk kemampuan seseorang dalam memanfaatkan jaringan atau relasi sosial untuk melakukan sesuatu. Istilah sehari-harinya, orang yang punya modal sosial psiko-sentris ini adalah “orang gaul”, pergaulannya luas, banyak teman, suka nraktir (dan ditraktir) , dan pandai memanfaatkan hubungannya untuk memperlancar urusan. Kadang bentuk kemampuan ini dilihat secara rada sinis, karena orang yang memilikinya cenderung terlihat suka berkolusi dan pandai “memanfaatkan teman”. Padahal seringkali kemampuan bergaul ini bersifat positif dan memang diperlukan di segala bidang (tidak hanya bisnis atau politik).
Modal sosial akan tampak lebih “netral” jika kita melihatnya sebagai modal yang sosio-sentris. Dalam bentuk sosio-sentris, modal ini terlihat sebagai sebuah tindakan kolektif yang di dalamnya mengandung hubungan-hubungan pribadi. Misalnya, modal sosial ini sering terucapkan secara bercanda dalam kata-kata “Bersatu kita teguh, bercerai kita… kawin lagi!” Maksudnya adalah betapa penting bagi sebuah komunitas untuk bertindak secara kolektif, dan tindakan kolektif ini kemudian dapat dimanfaatkan (atau istilah kerennya: diapropriasikan) oleh seseorang yang memerlukannya, baik dalam bentuk organisasi atau sistem sosial itu sendiri. Pemanfaatan ini menimbulkan keberuntungan (baik keberuntungan finansial maupun keberuntungan lain) bagi orang itu maupun bagi sesama anggota komunitas yang lain. Kita sering bilang, “Elu untung, gue untung.. sama-sama senang, lah!”
B.     Wujud Nyata Dari Modal Sosial
Modal sosial terkadang merupakan sesuatu yang sangat tidak riil dan tampaknya sangat susah untuk sekedar dibayangkan. Mahluk apakah social capital itu? Berwujud apakah dia sehingga banyak membuat orang terinspirasi oleh pentingnya kehadiran modal sosial sebagai pendukung pemberdayaan masyarakat, pendukung demokrasi termasuk sebagai salah satu pilar penting dalam pengembangan good governance yang dewasa ini banyak diperbincangkan masyarakat kita.
C.    Hubungan social
Merupakan suatu bentuk komunikasi bersama lewat hidup berdampingan sebagai interaksi antar individu. Ini diperlukan sebab interaksi antar individu membuka kemungkinan campur tangan dan kepedulian individu terhadap individu yang lain. Bentuk ini mempunyai nilai positif karena masyarakat mempunyai keadilan sosial di lingkungannnya.
D.    Adat dan nilai budaya local
Ada banyak adat dan kultur yang masih terpelihara erat dalam lingkungan kita, budaya tersebut kita akui tidak semua bersifat demokratis, ada juga budaya-budaya dalam masyarakat yang terkadang sangat feodal bahkan sangat tidak demokratis. Namun dalam perjalanan sejarah masyarakat kita, banyak sekali nilai dan budaya lokal yang bisa kita junjung tinggi sebagai suatu modal yang menjunjung tinggi kebersamaan, kerjasama dan hubungan sosial dalam masyarakat.
E.     Toleransi
Toleransi atau menghargai pendapat orang lain merupakan salah satu kewajiban moral yang harus dilakukan oleh setiap orang ketika ia berada atau hidup bersama orang lain. Sikap ini juga yang pada akhirnya dijadikan sebagai salah satu prinsip demokrasi.   Toleransi bukan berati tidak boleh berbeda, toleransi juga bukan berarti diam tidak berpendapat. Namun toleransi bermakna sebagai penghargaan terhadap orang lain, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara serta menyadari bahwa pada dasarnya setiap orang mempunyai kepentingan yang berbeda.
F.     Kesediaan untuk mendengar
Dalam belajar berdemokrasi kita sangat tidak asing dengan upaya seperti menghormati pendapat orang lain, toleransi dan lain-lain. Namun ada satu hal yang hampir terlupakan yaitu tentang kesediaan mendengar pendapat orang lain. Begitu juga dalam bernegara, kearifan mendengar suara rakyat merupakan salah satu bentuk toleransi dan penghargaan negara terhadap masyarakat. Apa yang berkembang di dalam masyarakat sebagai suara rakyat haruslah ditampung, disimak dan dipahami untuk mengkaji ulang kebijakan “kebijakannya. Kekuasaan yang tidak mampu lagi mendengar suara anggotanya adalah kekuasaan yang tidak lagi inspiratif, dan tidak menjalankan kedaulatan rakyat. Kekuasaan seperti ini haruslah direformasi.
G.    Kejujuran
Merupakan salah satu hal pokok dari suatu keterbukaan atau transparansi.  Dalam masyarakat kita hal ini sudah ada, dan ini sangat mendukung perkembangan masyarakat ke arah yang lebih demokratis karena sistem sosial seperti ini akan mensuramkan titik-titik korupsi dan manipulasi di kalangan masyarakat adat sendiri.
H.    Kearifan lokal dan pengetahuan local
Merupakan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat sebagai pendukung nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Penghargaan terhadap nilai lokal ini memunculkan kebersamaan antar anggota masyarakat yang akan diturunkan kepada generasi berikutnya.
I.       Jaringan Sosial dan Kepemimpinan Sosial
Jaringan sosial terbentuk berdasarkan kepentingan atau ketertarikan individu secara prinsip atau pemikiran. Sementara itu kepemimpinan sosial terbentuk dari kesamaan visi, hubungan personal atau keagamaan. Seluruh kepemimpinan sosial muncul dari proses demokrasi. Dalam demokrasi yang dominan adalah adu konsep rasional dan gagasan terhadap suatu kemajuan.
J.      Kepercayaan
Merupakan hubungan sosial yang dibangun atas dasar rasa percaya dan rasa memiliki bersama.Dalam soal ini, deskripsi Fukuyama relevan untuk dikemukakan. Dalam buku Trust: The Social Virtues and The Creation of Prosperity (1985), Francis Fukuyama mengeksplorasi modal sosial itu guna mendeskripsikan betapa masyarakat yang telah memiliki modal sosial. Suatu masyarakat, dengan kepercayaan tinggi, dijamin sukses menjalankan visi dan misinya (high-trust society). Di sana digambarkan, masyarakat bersatu padu demi masyarakat keseluruhan. Kesediaan orang untuk berkorban, ini mengingatkan kita kepada zaman revolusi, betapa suasana yang tercipta adalah kepercayaan yang tinggi. Sebaliknya, sikap saling curiga, suka menaruh kecewa kepada unit masyarakat yang lain, selalu menabung cemburu satu sama lain, adalah indikasi rendahnya kepercayaan (low-trust society) di masyarakat. Mungkin inilah yang oleh Fukuyama diistilahkan dengan zero trust society, sebelum menginjak ke arah yang lebih runyam ketiadaan kepercayaan.
K.    Kebersamaan dan Kesetiaan
Perasaan ikut memiliki dan perasaan menjadi bagian dari sebuah komunitas.
L.     Tanggung jawab social
Merupakan rasa empati masyarakat terhadap perkembangan lingkungan masyarakat dan berusaha untuk selalu meningkatkan ke arah kemajuan.
M.   Partisipasi masyarakat
Kesadaran dalam diri seseorang untuk ikut terlibat dalam berbagai hal yang berkaitan dengan diri dan lingkungannya.
N.    Kemandirian
Keikutsertaan masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan yang ada dalam masyarakat dan keterlibatan mereka dalam institusi yang ada dilingkungannya sebagai rasa empati dan rasa kebersamaan yang mereka miliki bersama.
O.    Modal Sosial Pendidikan
Modal sosial pendidikan timbul dari adanya interaksi antara orang-orang dalam komunitas pendidikan. Meskipun interaksi terjadi karena sebagai alasan,orang-orang berinteraksi,berkomunikasi,dan kemudian menjalin kerja sama pada dasarnya dipengaruhi oleh keinginan untuk berbagi cara mencapai tujuan bersama yang tidak jarang berbeda dengan tujuan dirinya sendiri secara pribadi. Interaksi semacam ini melahirkan Modal Sosial Pendidikan yang ikatan-ikatan emosional yang menyatukan orang untuk mencapai tujuan bersama,yang kemudian menumbuhkan kepercayaan dan keamanan yang tercipta dari adanya relasi yang relatif panjang.
P.     Kepercayaan.
Secara umum orang tua menginginkan pendidikan yang lengkap untuk anak-anak mereka. Mereka menginginkan generasi mudanya dapat bertahan hidup dan berkembang menjadi warga negara yang berbudaya dan berpendidikan serta memiliki kemampuan untuk berperan secara penuh dalam kehidupan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Fiske, 1993 bahwa orang tua adalah pelanggan utama sekolah yang mempunyai tujuan pokok agar anak-anak mereka memperoleh pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, bagaimana sebuah sekolah menciptakan kepercayaan orang tua untuk menyekolahkan anaknya pada sekolah tersebut. Pengoptimalan sumber daya yang ada memang diperlukan untuk melakukan kegiatan yang membangun nilai tambah bagi lembaga pendidikan.
Q.    Jaringan Sosial (partisipasi, solidaritas, kerjasama)
Jaringan sosial terbentuk berdasarkan kepentingan atau ketertarikan individu secara prinsip atau pemikiran. Sementara itu kepemimpinan sosial terbentuk dari kesamaan visi, hubungan personal atau keagamaan. Seluruh kepemimpinan sosial muncul dari proses demokrasi. Dalam demokrasi yang dominan adalah adu konsep rasional dan gagasan terhadap suatu kemajuan.
Kebersamaan, solidaritas, toleransi, semangat bekerjasama, kemampuan berempati, merupakan modal sosial yang melekat dalam kehidupan bermasyarakat. Hilangnya modal sosial tersebut dapat dipastikan kesatuan masyarakat, bangsa dan negara akan terancam, atau paling tidak masalah-masalah kolektif akan sulit untuk diselesaikan. Kebersamaan dapat meringankan beban, berbagi pemikiran, sehingga dapat dipastikan semakin kuat modal sosial, semakin tinggi daya tahan, daya juang, dan kualitas kehidupan suatu masyarakat. Tanpa adanya modal sosial, masyarakat sangat mudah diintervensi bahkan dihancurkan oleh pihak luar. Pranata Sosial (nilai-nilai bersama, aturan-aturan) Pranata Sosial adalah wadah yang memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi menurut pola perilaku yang sesuai dengan norma yang berlaku.
Horton dan Hunt mengartikan pranata sosial sebagai suatu hubungan sosial yang terorganisir yang memperlihatkan nilai-nilai dan prosedur-prosedur yang sama dan yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar teertentu dalam masyarakat. Keterangan Contoh di sekolah sebagi lembaga sosial budaya untuk memperoleh pendidikan mempunyai aturan-aturan. setiap orang harus berperillaku sesuai dengan aturan-aturan tertentu sehingga proses pendidikan berjalan dg baik. Begitu juga di bank, mempunyai aturan sendiri, setiap karyawan harus berperilaku sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sebagai sebuah bangsa atau kelompok, masyarakatIndonesiamemiliki unsur-unsur kebudayaan sendiri. Salah satu unsurnya adalah organisasi sosial. Di dalam organisasi sosial yang terbangun dalam kebudayaan bangsaIndonesia, pemerintah baik dari pusat hingga daerah merupakan bagiannya. Dalam masing-masing unsur kebudayaan bangsa Indonesia terdapat pranata-pranata yang disepakati bersama. Pranata-pranata inilah yang kemudian dilaksanakan bersama untuk menjalankan kehidupan bangsa tersebut sebagai sebuah kelompok masyarakat. Kota Surakarta sebagai bagian dari bangsaIndonesiajuga berkewajiban untuk menjalankan pranata sosial yang sudah terbangun. Salah satu wujud pranata tersebut adalah peraturan peundang-undangan. Peraturan perundang-undangan atau pranata tersebut juga mengatur banyak hal yang terkait dengan pelaksanaan sistem sosial di dalamnya. Salah satunya diKotaSolo.
Amanat dari pranata sosial yang disepakati mengatur tentang bagaimana agar komunikasi antar kelompok dalam masyarakatnya terbangun dengan baik, tidak saling berbenturan, dapat bekerja sama antara yang satu dengan yang lain, saling memahami, tidak saling menganggu, sejahtera, dan lain sebagainya. Pemerintah merupakan satu organisasi sosial yang bertugapranata social yang sudah disepakati. Dari pranata-pranata social ini diturunkan kembali kedalam aturan-atauran yang lebih kecil. Misalnya, ketika menggunakan fasilitas publik maka kepentingan anggota masyarakat lain juga harus dipikirkan agar tidak ada pihak yang dirugikan dalam penggunaan fasilitas tersebut. Hal inilah yang kemudian menginisiasi munculnya retribusi, pajak (meskipun sebagian orang ada juga yang menyamakan dengan upeti), sumbangan dan lain-lain.






















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Modal sosial adalah suatu konsep dengan berbagai definisi yang saling terkait, yang didasarkan pada nilai jaringan sosial. Modal sosial terkadang merupakan sesuatu yang sangat tidak riil dan tampaknya sangat susah untuk sekedar dibayangkan. Modal sosial pendidikan timbul dari adanya interaksi antara orang-orang dalam komunitas pendidikan. Sedangkan problematika yang terjadi antara lain pranata sosial, kepercayaan, dan  jaringan sosial.
Solusis brolematika modal pendidikan yang ada di Indonesia yang Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, antara lain dan Kedua, solusi teknis, yakni solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan internal dalam penyelenggaraan sistem pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA
http://www.ireyogya.org/adat/modul_modalsosial.htm
Prijono, Onny S. 1966. Pemberdayaan Konsep, Kebjakan dan Implementasi.Jakarta: Centre for Strategic and International Studies.
Soekamto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: CV. Rajawali.
Sugiyanto. 2002. Lembaga Sosial. Jogyakarta: Global Pustaka Utama.
Field, John. Modal Sosial. Medan:Bina Media Perintis


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2013 Info Pendidikan All Right Reserved