RESUME. Filsafat Umum



RESUME
 FILSAFAT UMUM
BAB I

A.      Pengertian Filsafat
       Secara etimologis folsafat berasal dari beberapa bahasa, yaitu bahasa inggris dan bahasa yunani. Dalam bahasa inggris yaitu “philosophy” sedangkan dalam bahasa yunani “philein” atau “philos dan “shofein” atau sofhia. Adapula yang mengatakan filsafat dari bahasa arab yaitu, “falsafah” yang artinya al-Hikmah. Akan tetapi, kata tersebut pada awalnya
berasal dari bahasa yunani, philos artinya cinta sedangkan shopia artinya kebijaksanaan. Oleh karena itu filsafat dapat diartikan dengan cinta kebijaksanaan yang dalam bahasa arab di istilahkan dengan al-Hikmah.
Sedangkan secara terminologis filsafat mempunyai arti yang bervariasi. Juhaya paradya (200;2) mengatakan bahwa arti yang sangat formal dari filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan atau sikap yang dijunjung tinggi. Suatu sikap filsafat yang benar adalah sikap yang kritis dan mencari.
Filsafat selalu mencari jawaban-jawaban tetapi jawaban yang ditemukan tidak pernah abadi oleh karena itu, masalah-masalah filsafat tidak pernah selesai karena itu adalah hakikat dari berfilsafat. Filsafat adalah semi kritis yang bukan semata-mata membatasi diri pada destruksi atau seakan-akan takut untuk mrmbawa pandangan positifnya sendiri.
Franz magnis suseno menegaskan bahwa kritisnya filsafat adalah kritis dalam arti bahawa filsafat tidak pernah puas diri, tidak pernah membiarkan sesuatu sebagai sesuatu yang sudah selesai bahkan senang membuka kembali perdebetan. Sesalu dan secara hakiki bersifat dialektis dalam arti bahwa setiapkebenaran menjadi lebih benar dengan setiap putaran tesisi antithesis dan atitesisnya antetesis.
Secara ontologis, manusia memiliki kreativitas dan berfungsi mencermati dirinya sebagai hamba tuhan dan pemimpin dimuka bumi. Karakter manusia  yang tidak pernah merasa puas dengan yang dimiliki dan dialaminya merangsang akalnya merenungi sedalam mungkin seluruh yang nyata ada dan yang ada tapi tidak nyata.
Dalam hal ini, herman soewardi (1996;4) mengatakan bahwa perenungan filosofis terhadap segala hal yang ada dan yang mungkin ada sehingga menemukan persepsi dan konsepsi tertentu atas sesuatu yang direnungi, hakikatnya adalah cikal bakal ilmu pengetahuan.[1]
B.       Ciri-ciri Pemikiran Filsafat
Adapun ciri-ciri filsafat adalah sebagai berikut:
1.      Sangat umum atau universal
Pemikiran filsafat memiliki kecendrungan sangat umum dan tingkat keumumannya sangat tinggi karena pemikiran filsafat tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus, akan tetapi bersangkutan dengan konsep-konsep yang yang sifatnya umum. Misalnya tentang manusia, tentang keadilan, tentang kebebasan, dan lainnnya.
2.      Tidak factual
Kata laintidak factual adalah spekulatif, yang artinya filsafat membuat dugaan-dugaan yang masuk akal mengenai sesuatu dengan tidak berdasarkan pada bukti. Hal ini sebagai suatu hal yang melampaui tapal bata dari fakta-fakta pengetahuan ilmiah. Jawaban-jawaban yang didapat dari dugaan-dugaan tersebut sifatnya spekulatif. Hal ini bukan berarti pemikiran filsafat tidak ilmiah, akan tetapi pemikiran filsafat tidak termasuk kedalam lingkup kewenangan ilmu khusus.
3.      Bersangkutan dengan nilai
C.J. Ducasse mengatakan bahwa filsafat merupakan usaha untuk mencari pengetahuan, berupa fakta-fakta yang disebut penilaian. Yang dibicarakan tentang penilaian adalah tentang yang baik dan buruk yang sesuai susila dan asusila dan akhirnya filsafat sebagai suatu usaha untuk mempertahankan nilai.
4.      Berkaitan dengan arti
Diatas dikatakan bahwa nilai selalu dipertahankan dan dicari. Sesuatu yang bernilai tentu didalamnya penuh dengan arti, agar para filosof dalam mengunkapkan ide-idenya sarat dengan arti , para filosof harus dapat menciptakan kalimat-kalimat yang logis dan bahasa yang tepai/ilmiah. Semua itu berguna untuk menghindari kesalahan/sesat pikir.
5.      Implikatif
Pemikiran filsafat yang baik dan terpilih selalu mengandung implikasi(akibat logis). Dari implikasi tersebut diharapkan akan mampu melahirkan pemikiran baru sehingga akan terjadi proses pemikiran yang dinamis, dari tesis ke antitesis ke antitesis kemudian sintesis dan seterusnya Sehingga tida habis-habisnya. Pola pemikiran yang implikatif (dialektif) akan dapat menyuburkan intelektual.
C.      Cabang-cabang filsafat
1.      Filsafat tentang pengetahuan, terdiri dari:
a.       Epistemology
b.      Logika
c.       Kritik ilmu
2.      Filsafat tentang keseluruhan kenyataan, terdiri dari:
a.       Metafisika umum (ontologi)
b.      Metafisika khusus, terdiri:
1)      Teologi metafisik
2)      Antropologi
3)      Kosmologi
3.      Filsafat tentang tindakan, terdiri dari:
a.       Etika
b.      Estetika
4.      Sejarah filsafat
Pembagian filsafat secara sistematis yang didasarkan pada tematik yang berlaku didalam kurikulum akademis:
a.       Metafisika (filsafat tentang hal yang ada)
b.      Epistemology (teori pengetahuan)
c.       Metodologi (teori tentang metode)
d.      Logika (teori tentang penyimpulan)
e.       Etika (filsafat tentang pertimbangan moral)
f.       Estetika (filsafat tentang keindahan)
g.      Sejarah filsafat
Pembagian filsafat berdasarkan pada struktur pengetahuan filsafat yang berkembang saat ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu:
a.       Filsafat sistematis, terdiri:
1)      Metafisika
2)      Epistemology
3)      Metodologi
4)      Logika
5)      Etika
6)      Estetika
b.      Filsafat khusus, terdiri:
1)      Filsafat seni
2)      Filsafat kebudayaan
3)      Filsafat pendidikan
4)      Filsafat sejarah
5)      Filsafat bahasa
6)      Filsafat hokum
7)      Filsafat budi
8)      Filsafat politik
9)      Filsafat agama
10)  Filsafat kehidupan social
11)  Filsafat nilai
c.       Filsafat Keilmua, terdiri:
1)      Filsafat matematik
2)      Filsafat ilmu-ilmu fisik
3)      Filsafat biologi
4)      Filsafat linguistic
5)      Filsafat psikologi
6)      Filsafat ilmu sosial[2].







BAB II
LANDASAN PENELAAHAN ILMU: ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Perkembangan ilmu pengetahuan telah memunculkan berbagai macam ilmu dan macam-macamnya. Perkembangan ilmu bermula dari pertanyaan-pertanyaan yang semuanya membutuhkan pemikiran yang sangat luas, dari pemahaman-pemahaman tersebut sehingga memunculkan landasan dalam penelaahannya. Adapun landasan tersebut ialah sebagai berikut:
1.        ONTOLOGI
Ontologi terdiri dari dua kata, yakni ontos dab logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Jadi ontology dapat diartikan sebagai ilmu akan teori-teori tentang wujud hakikat yang ada. Dari teori hakikat ontologi ini kemudian muncullah berbagai aliran dalam filsafat, antara lain: filsafat materialisme, idealisme, dualisme, skeptisme dan agnostisisme.
Argumen ontologis ini pertama kali dilontarkan oleh Plato dengan teori ideanya. Menurut Plato, tiap-tiap yang ada di alam ini mesti ada ideanya. Argumen kedua dimajukan oleh ST.Agustine, menurut Agustine manusia mengetahui dari pengalaman hidupnya bahwa dalam alam ini ada kebenaran. Namun akal manusia ini terkadang ia mengetahui apa yang benar, terkadang pula ia ragu-ragu bahwa apa yang diketahuinya adalah sesuatu yang benar. Menurutnya akal manusia mengetahui bahwa masih ada kebenaran yang kekal.
Adapun karakteristik ontologi ilmu pengetahuan antara lain: ilmu berasal dari riset, tidak ada konsep wahyu, adanya konsep pegetahuan empiris, pengetahuan rasioanl bukan keyakinan, pengetahuan objektif, pengetahuan sistemik, pengetahuan metodologis, pengetahuan observatif, menghargai asa verifikasi, menghargai asa ekspalanatif, menghargai asa keterbukaan dan dapat diulang kembali, menghargai asa skeptikisme yang radikal, melakukan pembuktian bentuk konsolitas, mengetahui pengetahuan dan konsep yang relatif, mengakui adanya logika ilmiah, memiliki konsep tentang hukum-hukum alam yang telah dibuktikan, menghargai berbagai metode experimen, pengetahuan bersifat netral atau tidak memihak dan melakukan terapan ilmu menjadi teknologi.
2.      EPISTEMOLOGI
Berasal dari kata episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Jadi epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan cara memperolehnya. Epitemologi juga disebut teori pengetahuan yakni cabang filsafat yang membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan, hakikat pengetahuan dan sumber pengetahuan. Dengan kata lain epistemologi adlah suatu cabang filsafat  yang menyoroti atau membahas tentang tata cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan.
Menurut keith lehrer, secara historis terdapat tiga perspektif dalam epistemologi yang berkembang dibarat yaitu: dogmatik epistemolog, critical epistemolog, dan scientific epistemology.
Yang pertama dogmatik epistemolog adalah pendekatan tradisional terhadap epitemologi terutama plato, yang kedua critical epistemolog adalah melalui pendekatan kritis yang dikembangkan oleh descartes. Yang ketiga scientific epistemologi adalah pendekatan melalui sebuah penelitian secara sainstific.
Epistemology juga disebut teori pengetahuan atau kajian tentang justifikasi pengetahuan dan kepercayaan. Untuk menemukan kebenaran dilakukan lankah sebagai berikut:
a.       Menemukan kebenaran dari masalah
b.      Pengamatan dan teori untuk menemukan kebenaran
c.       Pengamatan dan experimen untuk menemukan kebenaran
d.      Falsification atau oprasionalis
e.       Konfirmasi kemungkinan untuk menemukan kebenaran
f.       Metode hipotetico-deduktif
g.      Induksi dan presuposisi atau teori untuk menemukan kebenaran fakta.
3.      AKSIOLOGI
Aksiologi adalah cabang filsafat yang membicarakan orientasi atau nilai suatu kehidupan. Aksiologi disebut juga teori nilai karena ia dapat menjadi sarana orientasi manusia dalam usaha menjawab suatu pertanyaan yang amat fundamental dengan kata lain, aksiologi adalah ilmu yang menyoroti masalah nilai dan kegunaan ilmu pengetahuan itu. Ilmu pengetahuan itu hanya alat dan bukan tujuan, substansi ilmu itu bebas nilai tergantung pada pemakainya.
Tujuan dasarnya adalah menemukan kebenaran atas fakta-fakta yang ada atau sedapat mungkin ada kepastian kebenaran ilmiah. Contoh: pada ilmu mekanika tanah dikatakan bahwa kadar air tanah mempengaruhi tingkat kepadatan tanah tersebut. Setelah dilakukan pengujian laboratorium dengan simulasi berbagai variasi, kadar air ternyata terbukti bahwa teori tersebut benar. Ilmu ini bermanfaat meningkatkan kesejahteraan dibidang pertanian.[3].









BAB III
SISTEMATIKA SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT

Dari mitologi ke pemikiran filsafat
Mitologi berasal dari kata ”mite” atau ”mitos” sebelum filsafat lahir dan berkembang pesat, di yunani telah berkembang berbagai mitos bahkan filsafat pertama kali dikembangkan melalui jalan mitologis mitos yang berkembang merupakan metode yang dijadikan cara untuk memahami segala sesuatu yang ada.
Metode tersebut biasanya melalui hal-hal yang mistis seperti memberi sesajen, meyakini adanya kekuatan yang lain di luar alam fisik, adanya para dewa, dan sebagainya. Khayalan-khayalan itu menjadi keyakinan yang selanjutnya mebentuk pemahaman normatif tentang setiap keberadaan dan kekuatan yang ada didalamnya.
Pada masyarkat kunao, mitologi yang berkembang sebelum filsafat mereka menjadikan mitos sebagai filsafat itu sendiri, yang menurut penciptaannya sama sekali bukan mitos melainkan cara berfikir empiris, logis, dan realitas. sebelum filsafat lahir dunia mitos menjadi andalan masyarakat yunani kuno.
Sebenarnya bangsa yunani kuno adalah bangsa yang cerdas dalam menyampaikan pesan-pesan filosofinya melalui penciptaan mitos-mitos yang disusun melalui berbagai pendekatan misalnya; melalui puisi, cerita rakyat, sastra, dan berbagai karya-karya pahatan dan bangunan-bangunan bersejarah.
Mitos adalah pencerahan masyrakat yang hidup pada masa yang lalu dalam menemukan jawaban-jawaban atas masalah yang disebabkan oleh situasi dan kondisi alam. Kemarahan alam dengan berbagai peristiwa yang membingungkan masyarakat, seperti gunung meletus, bencana banjir, dan sebagainya yang menewaskan ribuan nyawa manusia, disebabkan belum tersentuh oleh pengetahuan dan penemuan ilmiah hanya dapat dijawab oleh sistem berfikir masyarakat yang kemudian disebut mitos.
Dunia mitos yunani kuna berhasil melahirkan sejumlah filosof yang tingkat pengarhnya belum terkalahkan seperti socrates, plato dan aristoteles. Perkembangan ilmu filsafat pada taraf kemajuannya begitu erat dengan para teolog, bahkan filsafat berada dibawah naungan agama. Zaman ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu; zaman patristik, zaman awal skolastik, zaman keemasan skolastik, dan zaman akhir pertengahan.














BABA IV
FILSAFAT PADA ZAMAN YUNANI KUNO

Pada zaman Skolastik abad pertengahan kemenangan ada pada pihak teolog yang dihentikan oleh Descartes. Sejak Descartes iaman kalah dan akal yang menang. Ciri-ciri umum filsafat yunani ialah rasionalisme zaman ini mencapai puncaknya pada orang-orang Sofheis. Untuk melihat rasionalisme sofheis perludipahami dulu latar belakangnya, latar belakang itu terletak pada pemikiran filsafat yang ada sebelumnya. Diantara sofheis rasionalisme terdapat beberapa tokoh yaitu:
1.    THALES
Thales (624-546 SM) orang miletus itu digelari bapak filsafat karena ialah orang yang mula-mula berfilsafat. Thales menjadi filosof karena ia bertanya dengan menggunakan jawaban yang menggunakan akal, bukan menggunakan agama atau kepercayaan lainnya.
2.    ANAXIMANDER
Anaximander mencoba menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal dan ada dengan sendirinya. Anaximander mengatakan itu adalah udara. Udara merupakan sumber segala kehidupan demikian alasannya. Dalam hal ini terdapat lebih dari satu kebenaran tentang satu persoalan, sebab ialah bukti kebenaran teori dalam filsafat  terletak pada logis atau tiadanya argument yang digunakan, bukan terletak pada konklusi.
3.    HERACLITUS
Paham relativisme semakin mempunya dasar setelah Heraclitus (544-484 SM) mengatakan “engkau tidak dapat terjun kesungai yag sama dua kali karena air sumgai itu selalu mengalir”. Menurut Heraclitus alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah. Sesuatu yang dingin dapat berubah menjadi panas, yang panas dapat berubah menjadi dingin. Implikasi pernyataan ini sangat hebat, pernyataan itu mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah atau tidak tetap.
4.    PARMANIDES
Parmanides adalah seoarang tokoh relativisme yang penting, kalau bukan yang terpenting. Parmanides lahir pada kira-kira tahun 450 SM. Ia dijuluki sebagai logikawan pertama dalam sejarah, bahkan dapat disebut sebagai filosof pertama dalam pengertian modern. Dalam “the way of truth” parmanides bertanya apa standar kebenaran dan apa ukuran relativitas? Ia menjawab ukurannya ialah logika yang konsisten. Jadi benar tidaknya suatu pendapat diukur dengan logika, disinilah masalh muncul, bentuk ekstrim pernyataan itu adalah bahwa ukuran kebenaran adalah akal manusia.
5.    ZENO
Menurut Plato ia lahir pada tahun 490 SM. Ia mulai memperlihatkan konsekuensi rumus tersebut. Ia dapat merelativkan kebenaran yang telah mapan. Pemikiran sofis itu mempunyai ciri berupa pandangan yang saling bertentangan. Dalam moral pun mereka dikatakan menganut moral yang relative, jadi dalam moral baik dan buruk berfsifat relative.
Akan tetapi mereka ini begitu popular, inilah salah satu sebab kaum filosof menentang mereka mati-matian seperti yang dilakukan oleh Socrates. Sebagian para filosof menentang orang-orang sofis karena mereka mau menerima uang dari ajaran mereka. Filosof seperti plato memandang uang yang didapat dengan jalan seperti itu merendahkan derajat filsafat.
6.    PROTAGORAS
Salah satu tokoh dibarisan sofis ialah Protagoras. Ia mengatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Pernyataan ini merupakan tulan punggung humanisme. Pernyataan yang muncul ialah apakah yang dimaksudkan manusia individu ataukah manusia pada umumnya, dua hal itu menimbulkan konsekuensi yang sungguh berbeda akan tetapi tidak ada jawaban yang pasti mana yang dimaksud protagoras, yang jelas ia mengatakan bahwa kebenaran itu bersifat pribadi akibatnya ialah tidak akan ada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika, maupun agama bahkan teori-teori matematika dianggapnya tidak mempunyai kebenaran yang absolut.
7.    GORGIAS
Gorgias datang ke Athena pada tahun 427 SM dari Leontin. Ada tiga proposisi yang diajukan Gorgias, pertama, tidak ada yang ada, maksudnya realitas itu sebenarnya tidak ada, kedua, bila suatu itu ada, ia tidak akan dapat diketahui, ini disebabkan oleh pengindraan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi. Akal menurut Gorgias tidak juga mampu meyakinkan kita tentang bahan alam semesta ini karena kita telah dikunkung oleh dilema subjektif. Kita berfikir sesuai dengan kemauan idea kita yang kita terapkan pada fenomena. Proses ini tidak menghasilkan kebenaran, proposisi ketiga Gorgias ialah sekalipun realitas itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita beri tahukan kepada orang lain.
8.    SOCRATES
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relativ telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Hal inilah yang menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya socrates harus bangkit untuk meyakinkan bahwa tidak semua kebenaran itu relatif.
       Socrates adalah seoarang penganut moral yang absolut dan meyakini bahwa menegakkan moral adalah tugas filosof yang berdasarkan ide-ide rasional dan keahlian dalam pengetahuan. Pada dasarnya ajaran socrates tidaklah terlalu berbeda dengan ajaran-ajaran orang sofis, tetapi perbedaan yang sangat penting antara oran-orang sofis dan socrates. Socrates tidak menyetujui relativisme kaum sofis.
       Menurut socrates ada kebenaran objektif yang tidak bergantung kepada saya atau pada kita. Untuk membuktikan adanya kebenaran yang obyektif socrates menggunakan metode tertentu, metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat, setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan tidak salah, adil dan tidak adil, berani dan tidak berani dan lain-lain. Socrates selalu menganggap jawaban pertama hipotesis dan jawaban-jawaban selanjutnya ia menarik konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban tersebut. Metode ini disebut dialektika.
9.    PLATO
Plato adalah seorang murid dan sekaligus teman socrates. Pemikiran-pemikirannya banyak dipengaruhi oleh sang guru, menurut plato, kebenaran umum itu bukan dibuat denganan cara dialog yang induktif seperti pada Socrates. Pengertian umum itu sudah tersedia di sana di alam idea. Menurut plato esensi itu mempunyai realitas, realitasnya di alam idea itu.
Plato dengan ajaran idea yang lepas dari objek yang berada di alam idea abstraksi seperti socratesnjelas memperkuat memperkuat posisi socrates dalam menghadapi sofisme. Idea itu umum berarti berlaku umum sama dengan gurunya itu. Plato juga berpendapat bahwa selain kebenaran yang umum itu ada juga kebenaran yang khusus yaitu konkretisasi idea di ala mini. Contoh; kucing di idea berlaku umum kucing hitam di rumah saya ialah kucing yang khusus.
10.  ARISTOTELES
Aristoteles murid dan teman sekaligus guru plato. Ia adalah seorang yang mendapat pendidikan yang baik sebelum menjadi filosof, keluarganya ialah orang-orang yang tertarik pada ilmu kedokteran. Filsafat aristoteles berbeda warnanya dengan filsafat plato, sistematis, amat dipengaruhi oleh metode empiris.
Aristoteles lahir pada tahun 384 SM di Stagira sebuah kota di thrache. Ayahnya meninggal ketika ia masih amat muda ia dibesarkan oleh Proxeunes dan orang ini yang memberikan keistimewaan, aristoteles dimasukkan ke akademia plato antara tahun 340-335 SM. Aristoteles menekuni riset di istagira dibantu oleh teopharatus yang juga alumnus athena. Risetnya menghasilakn kemajuan dalam sains dan filsafat.
Didalam filsafat aristoteles dikenal sebagai bapak logika, logikanya disebut logika tradisional karena nantinya berkembang apa yang disebut logika moderen. Logikannya disebut aris formal. Bila orang-orang sofis menganggap manusia tidak akan mampu memperoleh kebenaran, aristoteles menyatakan bahwa manusia mampu mencapai kebenaran. Salah satu pendapat aristoteles yang paling penting ialah bahwa matter dan form itu bersatu, matter memberikan substansi sesuatu, form memberikan pembungkusnya. Ia juga berpendapat bahwa matter potensial dan form itu aktualitas.
Pada Aristoteles kita menyaksikan bahwa pemikiran filsafat lebih maju, dasar-dasar sains diletakkan, tuhan dicapai dengan akal tetapi ia percaya pada tuhan. Jasanya dalam menolong plato dan Socrates memerangi orang sofis ialah karena bukunya yang menjelaskan palsunya logika yang digunakan oleh tokoh-tokoh sofisme. Disinilah kuasa akal mulai dibatasi, ada kebenaran umum jadi tidak semua kebenaran itu bersifat relative.
Filsafat yunani yang rasional itu dapat dikatan berakhir setelah aristoteles selesai menggelarkan pemikirannya. Akan tetapi sifat rasional itu masih digunakanselama beberapa abad sesudah aristoteles, sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam abad pertengahan.[4]          








BAB V
FILSAFAT PADA ABAD PERTENGAHAN

Sebagaimana kita ketahui, pada abad yunani kuno kekuatan akal mendominasi dalm berfikirnya para kaum sofis. Namun setelah masa itu berlalu, kekuatan tibalah pada abad pertengahan yang merupakan pembalasan terhadap dominasi akal yang hampir seratus persen berkuasa dalam pemikiran pada zaman yunani sebelumnya terutama pada zaman sofis. Beberapa tokoh filosof yang paling terkenal pada abad pertengahan adalah sebagai berikut:
1.        Zaman Patristik
Istilah patristik berasal dari kata latin ”patres” yang berarti bapak dalam lingkungan gereja. Bapak yang mengacu pada pujangga Kristen melalui peletakan dasar intelektual untuk agama Kristen. Para filosof pada zaman ini diantaranya Yustinus Marktyir, Clemens (150-215 M), dan origenes (185-254 M). Marktyir adalah pemikir yang sejak semula telah mempelajari berbagai sistem filsafat dan ketika masuk agama kristen ia menyebut dirinya sebgai filosof.
Zaman keemasan patristick meliputi yunani maupun latin yang muncul pada masa yang kurang lebih sama di yunani. Zaman keemasan terbangun setelah caesar constantinus agung mengeluarkan ”edik milano” yang melindungi warganya dan untuk menganut agama kristen. Pada abad ke-8 zaman ke emasan patristick yunani berakhir dengan Johannes Damascenus.
2.      Tokoh-tokoh Ptristik dan Pemikirannya
a.       Justinus Martir. Ia berpendapat bahwa filsafat yang digabung ide-ide keagamaan akan menguntungkan, esensi dari pengetahuan ialah pemahaman tentang tuhan. Semakin banyak kita memikirkan tuhan akan semakin banyak pula kemampuan intelektualnya. Lebih lanjut ia juga mengatakan bahwa agama kristen lahir lebih dulu darpada filsafat yunani, agam kristen lebih bermutu dibanding filsafat yunani.
b.      Klemens. Menurut klemens, tuhan itu diluar kategori ruang dan waktu, jadi tuhan itu transendens. Ia menyatakan bahwa hubungan manusia dengan tuhan dicapai melalui logos iyu. Karena dari logos manusia dapat mengenal tuhannya, melihat kekuasaannya, klemens memberi batasan terhadap ajaran kristen untuk mempertahankan diri dari otoritas kristen. Filsafat yunani dapat digunakan untuk membela iman kristen dan memikirkan secara mendalam.
c.       Origenes. Menurut Origenes, alam semesta ini abadi. Menurut injil, alam semesta ini diciptakan akan hancur. Dunia ini merupakan pertarungan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat, kehidupan manusia adalah laga yang tidak henti-hentinya. Kejahatan memang diperlukan oleh tuhan untuk menunjukkan kepada manusia mana yang baik dan mana yang buruk, jadi menyempurnakan alam. Akan tetapi pendapat ini tidak boleh disalah gunakan lanjutnya.
d.      Tertullianus. Ia mengatakan bahwa dibanding cahaya kristen, maka segala yang dikatakan oleh para filsof yunani dianggap tidak penting. Menurutnya, tuhan adalah pemegang kekuasaan dan peraturan. Kepatuhan terhadap tuhan merupakan kewajiban. Bila menentang tuhan, kita akan masuk neraka dan benar-benar ada. Selain itu ia juga merupakan orang yang pertama kali mengenalkan trinitas (tuhan bapak, anak dan roh kudus). Ia menolak bahwa uskup dapat mengampuni segala dosa, ada beberapa dosa yang hanya dapat diampuni oleh tuhannya yaitu, zina, membunuh, murtad dan lain-lain.
e.       Agustinus, pandangan Agustinus tentang tuhan bahwa terpisah dari tuhan tidak ada realitas, karena esensi hanyalah milik tuhan, jadi hanya tuhan yang memilikinya. Hakikat yang sebenarnya adalah sebab awal. Hanya tuhanlah yang merupakan sebab awal. Ia yakin bahwa pemikiran dapat mengenal kebenaran, karena itulah ia menolak skeptisme. ajaran Agustinus berpusat pada dua pool: Tuhan dan manusia. Akan tetapi dapat dikatakan bahwa semua ajarannya berpusat pada tuhan.[5]
Agustinus mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah filsafat, agustinus telah meletakkan dasar-dasar bagi pemikiran abad pertengahan yang mengadopsi pemikiran platinus. Agustinus menggantikan akal dengan iman, potensi manusia yang diakui pada zaman yunani diganti dengan kuasa Allah. Ia mengatakan bahwa kita tidak perlu dipimpin oleh pendapat bahwa kebenaran itu relatif. Kebenaran itu mutlak yaitu ajaran agama. Ciri khas filsafat pada abad pertengahan pada rumusan terkenal yang dikemukakan oleh Saint Ancelmus, yaitu credo ute intelligent (yang berarti lebih dan setelah itu mengerti). Sifat ini berlawanan dengan dengan sifat filsafat rasional. Dalam filsafat rasional, pengertian itulah yang didahulukan, setelah dimengerti barulah mungkin diterima dan kalau mau diimani.
Sains, filsafat dan iman sebenarnya merupakan keseluruhan pengetahuan manusia. Akan tetapi, pembatasan daerah kerjanya masing-masing harus jelas. Sains bekerja pada objek-objek sensai, filsafat pada objek-objek logis sedangkan iman bekerja pada daerah-daerah abstrak supralogis.[6] Singkatnya bahwa pemikiran Agustinus penting bagi manusia modern.
3.      Zaman Awal Skolastik
       Sutardjo Wiramiharjo mengatakan bahwa zaman ini berhunbungan dengan terjadinya perpindahan penduduk yaitu perpindahan bangsa Hun dari asia eropa sehingga bangsa jerman pindah melewati perbatasan kekaisaran romawi yang secara politik sudah mengalamu kemerosotan karena situasi yang ricuh, tidak banyak pemikir filsafat yang patut ditampilkan pada masa ini. Namun ada beberapa tokoh dan situasi penting dalam memahami filsafat ini diantaranya ialah;
a.       Ahli fikir Boethius (480-504) dalam usianya yang ke 44 tahun beliau mendapat hukuman mati dengan tuduhan berkomplot. Boethius adalah seorang guru logika pada abad pertengahan dan mengarang beberapa praktek teologi yang dipelajari sepanjang abat pertengahan.
b.      Kaisar karel agung yang memerintah pada awal abad ke-19 yang telah berhasil mencapai stabilitas politik yang besar sehingga menyebabkan perkembangan pemikiran cultural berjalan positif. Pendidikan yang dibangun terdiri dari 3 jenis yaitu pendidikan yang di gabungkan dengan biara, pendidikan yang ditanggung keuskupan dan pendidikan raja atau kerabat kerajaan.
c.       Beberapa nama penting lainnya seperti Johannes Scouns Eriugena, Ansalmus dan abelardus. Eruigena ia berjasa dalam menerjemahkan karya Psaudah Dionysios kedalam bahasa latin sehingga menjadi referensi bagi dunia pemikiran abad-abad selanjutnya (810-877). Ansalmus (1033-1109) memimpin biara Dinormandi, Prancus dan Uskup Agung di Canterbury inggris. Abelardus (1079-1142) sangat berjasa ia memberikan sumbangan terhadap penyelesaian masalah yang ramai di bicarakan ndalam kalangan skolastik yaitu masalah universalnyauniversal menyangkut konsep-konsep yang menentukan kodrat dan kedudukan konsep-konsep tersebut.
d.      Cara mengajar yang terdiri dari dua jenis; pertama cara kuliah (lectio) yang diberikan oleh seorang maha guru, yang ke dua diskusi yang dipimpin seorang maha guru. Suatu topic dibahas secara sitemis dengan menampung semua argument pro dan kontra.




4.        Zaman Keemasan Skolastik
       Terjadi abad ke -13 sama dengan abad pertengahan. Pada abad ini filsafat dipelajari dalam lingkungan dengan teologi, akan tetapi tidak berarti bahwa wacana filsafat hilang. pada abad ini dibangun sintesis filosofis yang penting sintesisnya berkaitan dengan 3 hal, pertama, di dirikannya universitas-universitas pada tahun 1200, kedua, dibentuknya beberapa ordo baru, ketiga, ditemukan dan digunakannya sejumlah karya filsafat yang sebelumnya tidak dikenal.[7]
5.      Zaman Akhir Skolastik
Perkembangan skolastik yang paling memuncak dicapai pada pertengahan kedua abad ke-13 dan perempat abad ke-14. Pada abad ke-14 itu makin lama timbullah rasa jemu terhadap segala macam filsafat yang konstruktip. Sebab orang-orang yang setia kepada pemikiran yang membangun menampakkan gejala pembekuan. Timbullah dua kelompok pemikir yaitu, aliran Thomisme dan Scotisme. Disamping itu masih terdapat pula kelompok-kelompok lain yang lebih lemah yaitu, aliran yang mengikuti Agustinus dan Albertus Agung.[8]
6.      Zaman Akhir Abad Pertengahan
       Pada akhir abad ke-14 terjadi sikap kritis atas berbagai usaha pemikiran yang menintesiskan pemikiran filsafat dan teologi yang semakin menyimpang dari pendapat aristoteles. Yang berjasa pada abad ke-14 dalam mempersiapkan ilmu pengetahuan alam modern ialah Johannes Buridanin (1298-1359) di Parisian, Thomas Bradwardine (1300-1349) di oxford.
Filsafat pada abad pertengahan diawali oleh Boethius diakhiri oleh Nicolaus Cusonus (1401-1464). Sejarah keilmuan lebih berkembang mulai abad ke-14 dan 15 melalui ekspedisi-ekspedisi besar, seperti ekspedisi Vasco da Gama ke india timur sedangkan kapten kepalanya yaitu Abdul Majid (arab) dan ekspedisi Christopher Colombus (1451-1506 M) ke india barat. Penemuan mesin cetak pada ke-15 M oleh Johan Gutenberg (1400-1468 M) menjadi titik balik yang paling penting.
Tokoh-tokoh yang penting dalam kemajuan ilmu ialah: Francis Bacon, Descates, Newton, Kepler, Nicolaus, Coparnicus, Galileo, Kavoiser, Muller, Pasteur, Koch, Darwin, Liuna Aeus, Lamorck, Vuvier dan Dalton. Merek adalah tokoh-tokoh yang mempercepat kemajuan ilmu.[9]
















BAB VI
FILSAFAT ISLAM
Islam dengan kebudayaannya telah berjalan selama 15 abad. Dalam perjalanan yang demikaian panjang terdapat 5 abad perjalanan yang menakjubkan dalam kegiatan pemikiran filsafat, yaitu antara abad ke-7 hingga abad ke-12. Dalam kurun waktu 5 abad itu para ahli pikir islam merenungkan kedudukan manusia didalam hubungannya dengan sesama, dengan alam, dan dengan tuhan. Dengan menggunakan akal pikirnya. Mereka berfikir secara sistematis dan analitis serta kritis sehingga lahirlah para filsuf islam yang mempunyai kemampuan yang tinggi karena kebujaksanaannya.
Dalam kegiatan pemikiran filsafat tersebut, terdapat dua macam kekuatan pemikiran berikut:
a.       Para ahli pikir islam berusaha menyusun sebuah sistem yang disesuikan dengan ajaran islam
b.      Para ulama menggunakan metode rasional dalam penyelesaian soal-soal ketauhidan.
1.        Beberapa Perbedaan Yang Mendorong Aliran Pemikiran Filsafat Timbul
a.       Persoalan tentang zat tuhan yang tidak dapat di raba, dirasa, dan dipikirkan
b.      Perbedaan cara pikir
c.       Perbedaan orientasi dan tujuan hidup
d.      Perasaan “asabiyah”, keyakinan yang buta atas dasar suatu pendirian walaupun diyakini tidak benar.
2.        Lahirnya Filsafat Islam
Setelah kaisar yustinus menutup akademi Neoplatonisme di Athena, beberapa guru besar hijrah ke kresipon tahun 527, yang kemudian disambut oleh kaisar Khusraw tahun 529. Setelah itu di tempat yang baru menadakan kegiatan mengajar filsafat, mereka dalam waktu 20 tahun disamping mengajarkan filsafat, juga mempengaruhi lahirnya lembaga-lembaga yang mengajarkan filsafat seperti di Alexandria, Anthipia dan Beirut.
Sifat orang arab yang pada saat itu yang hidup mengembara bergeser pada proses urbanisasi kemudian diikuti pudarnya dasar kehidupam asli yang terpendam dalam jiwa arab.dahulu orang arap arab mengutamakan kejantanan dalam menghadapi hidup yang serba keras, karena terpengaruh keadaan gografis. Setelah proses urbanisasi mereka terikat olehy birokrasi dan mengalami krosos identitas dalam bidang social dan agama.
Setelah mendapat kemapanan, mereka mengalami proses akulturasi penguasaan ilmu. Maka mulailah mengadakan kontak intelektual yang pada saat itu tersedia warisan pemikiran yunani. Proses akulturasi mencapai puncaknya dengan didirikannya lembaga-lembaga pengajaran, penerjemahan dan perpustakaan. Misalnya, tahun 833 khalifah al-Ma’mun di bagda mendirikan Bait Al-Hikmah, tahun 972 Khalifah Hakam di Qahirah mendirikan Jami’at Al-Azhar. Pusat-pusat ilmu pengetahuan tersebut didirikan di kufah, fustat, basrah, samarrah, dan nishapur.
3.        Pembagian Aliran Pemikiran Filsafat Islam
Pembagian ini terdiri sebagai berikut:
a.       Peride Mu’tazilah. Prode ini berlangsung mulai abad ke-8 sampai abad ke-12 yang merupakan sebauh teolog rasional yang dikembangkan di Bagdad dan Basrah. Golongan ini memisahkan diri dari jumhur ulama yang dikatakan menyeleweng dari ajran islam. Pemikiran yang bertentangan adlah karena mereka mendahulukan akal pikir baru kemudian diselaraskan dengan al-Quran dan hadist. Menurut mereka Al-quran dan Hadist tidak mungkin bertentangan dengan akal fikir.
b.      Periode filsafat pertama. Periode ini berlangsung mulai abad ke-8 sampai abad ke-11, memakai system pemikiran yang dipakai para ahli fikir islam yang bersndar pada pemikiran Hellenisme, seperti Al-Kindi, Al-Razi, Al-Farabi dan Ibnu sina.
c.       Periode kalam Asy’ri. Peride ini berlangsung mulai abad ke-9 sampai abad ke-11, pusatnya di Bagdad. Aliran pemikiran ini mengacu pada system Elia (atomistis). System ini mempunyai dominasi besar sejajar denagn sunnisme dan Ahli Sunnah wal-Jamaah.
d.      Periode Filsafat ke Dua. Periode ini berlangsung mulai abad ke11 sampai abad ke-12 yang berkembang di Spanyol dan Magrib. Aliran ini mengacu pada system peripatetic. Tokohnya adalah Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd.





















VII
FILSAFAT ABAD KE-20

A.  Pemikiran Filsafat Abad Ke-20
Salah satu ciri perkembangan masyarakat pada abad ke-20 ditandai oleh pemikirannya terhadap keberadaan dan sikap dasar pribadi tentang pandangannya. Problematika inti yang mendasari pemikiran ini adalah bagaimana seoarng memandang dirinya dan orang lain dalam menyimak kehadirannya di ala mini.
Jean-Paul Sartre, salah seorang tokoh filsuf di antara filsuf eksistensialis, berpendapat bahwa filsuf abad ke-20 menelaah hakikat kemanusiaan dengan menerapkan kemanusiaan asli pandangannya dalam kaitan dengan dirinya maupun orang lain. Pemikiran ini tidak terbatas oleh objek yang dihadapinya, tetapi memperjelas keberadaan seseorang yang berfikir dengan pemikirannya.
Berbeda dengan Gabril Marcel dan Martin Buber yang membedakan daerah keberadaan manusia sebagaimana ia adannya dalam keutuhan kesejatian diri dengan seluruh fungsi cita-rasa karsanya, Sartre menganggap seorang tidak dapat menangkap diri orang lain. Zone entre berbeda dengan zone avoir, yaitu daerah memiliki berarti memiliki, mengusai, dan mempunyai. Orang lain menurut Sartre, bagi dirinya adalah suatu objek untuk diperlakukan dengan cara tertentu dalam mencapai tujuan di luar hubungan itu. Sartre mengatakan “ tidak dapat kita bertemu dengan orang lain sebagai suatu subjek, kita selalu saling memiliki atau menguasai saling bergantian, tak pernah bertemu. Meskipun kita saling bertemu, kita selalu terpisah”.
Pandangan Burber dan Marcel menyatakan bahwa sikap dasar orang memiliki dua segi, yang satu sebagaiman dikemukakan oleh Sartre dalam dunia pertentangan untuk memiliki dan menguasai (avoir) yang suasanannya zakelijk sedangkan yang lain yang dilukiskan oleh Buber sebagai berikut: “dari barisan objek yang saya hadapi satu diantaranya mendekati saya dan menjadi sesame subjek menjadi partner bicara saya atau bertemu dengan saya.”
Buber membedakan menjadi dua sikap: dua sikap dasar tersebut adalah ich und du dan ic und es (aku dan kamu, aku dan dia). Hubungan aku dan kamu menandai suatu hubungan antara dua orang yang signifikan bagi keduanya, sedangkan aku dia melihat hubungandalam cakupanyang lebih bersifat perkara.
Tujuan dari uraian Sartre, Marcel dan Buberadalah sebagai penjelasan tentang landasan kondusif yang diperlakukan untuk mewujudkan kreativitas. Kretivitas seseorang mulai terbentuk bila dia berada di tengah orang lain dalam suatu kebersamaan. Setiap penemuan yang merupakan ungkapan dari daya kreatif adalah perkembangan cetusan yang terutama terjadi bila relasi antar manusia ditandai oleh hubungan-hubungan yang signifikan.[10]
B.  Awal Abad ke-20
Tendensi-tendensi tertentu selama abad ke-19 ilmu menjadikan posisi menguat selama priode pergantian. Pada masa ini ini ilmu bersifat profesional dalam organisasi sosialnya, reduksionis dalam gayanya dan positif dalam jiwanya.
Kemudian ilmu dipandang pada dasarnya sebagai hasil karya penelitian murni. Hampir semua penelitian dilakukan oleh para ahli yang dilatih sangat ketat, bekerja secara total atau seperlunya untuk pekerjaan ini didalam lembaga-lembaga khusus. Para ilmuwan individual cendrung dikondisikan oleh kompetisi untuk menjadi pekerja peneliti yang sangat terspesialis.
Prestasi-prestasi ilmiah di awal abad ke-20 terlalu besar bahkan untuk dikatalogkan. Akan tetapi ada suatu pola umum kemajuan di tiap bidang utama, kemajuan didasarkan pada karya deskriptif yang sangat berhasil dari abad ke-19. Misal penemuan-penemuan pada abad ke-20 yang lebih maju adalah, ilmu-ilmu fisika, biologi, kedokteran dan lainnya.
Dalam fisika, teori-teori klasik mengenai daya-daya fisik yang utama seperti panas, listrik, dan magnetisme telah disatukan hingga ke fondasi-fondasinya oleh termodinamika dan bagian awal abad ke-20 menyaksikan penemuan efek-efek baru yang menyeluruh (sinar x, radioaktif) penetrasi ke dalam struktur materi (teori atomik, isotop-isotop). Dalam ilmu biologi,metode-metode kimia dan fisika membawa penemuan dan penjelasan mengenai agen-agen yang halu (vitamin-vitamin, hormon-hormon) dan rekonstruksi atas siklus-siklus rumit transformasi-transformasi kimia dengan mana materi hidup. Ilmu kedokteran dapat dihubungkan berdasarkan bakteriolog dan melalui penemuan obat-obatan khusus dan umum.
C.      Masalah-masalah dan Prospek-prospek
Dalam perspektif sejarah yang panjang ini, dapat dilihat bahwa kesulitan-kesulitan moral, politik dan lingkungan yang dihadapi ilmu dan teknolgi masa kini tidak seluruhnya baru. Semua itu merupakan suatu pembalikan kepada masalah-masalah yang telah dilupakan, pertama dengan kemunduran kepercayaan atas magis dan kemudian datangnya ilmu yang matang.
Pada masa kini, hubungan ilmu yang intim dengan industry, pertahanan, dan politik telah mebuat cita-cita akan ilmu murni ketinggalan zaman dan telah menghadapkan masyarakat pada perlunya suatu konsepsi mengenai cara kerja dunia ilmiah yang berbeda dari model reduksionis fisikawan.
Transformasi-transformasi apa yang dibawa di masa depan dan apakah peradaban dapat berhasil mencapai harmoni dengan alam yang diperlukan bagi kelangsungan hidup tak dapat dijamin. Mendefinisikan suatu masalah menjalani jalan yang panjang menuju solusi-solusinya masalah itu hanyalah bagian yang bersifat teknis sama halnya, ia merupakan salah satu sifat ilmu alamiah dalam peradaban eropa sebagaimana ia dikembangkan selama berabad-abad.[11]

BAB VIII
FILSAFAT MODEREN

Ada dua hal penting yang menandai sejarah modern, yakni runtuhnya otoritas gereja dan menguatnya otoritas sains. Kebudayaan modern kurang bernuansa gerejawi, Negara-negara semakin menggantikan gereja sebagai otoritas politik yang mengontrol kebudayaan. Penolakan terhadap otoritas gereja yang merupakan cirri negative dari abad modern, muncul lebih awal daripada cirri positifnya, yakni penerimaan terhadapa otoritas sains.
Serbuan sains pertama kali datang secara serius melalui publikasi teori Copernican pada tahun 1543, tetapi teori ini tidak kunjung menebar pengaruh sampai kemudian dipelajari dan dikembangkan oleh Kepler dan Galileo pada abad ke-17. Sejak saat itulah terjadi pertikaian antara sain dan dogma dan akhirnya kaum tradisional terpaksa mengakui kemenangan ilmu pengetahuan baru.
Otoritas sains yang kebanyakan filosof dipandang sebagai epos modern, sangat berbeda dengan otoritas gereja, karena otoritas sains bersifat intelektual, bukan politis. Tidak ada hukuman bagi mereka yang menolak otoritas sains juga tidak ada nasihat-nasihat bijak yang membujuk mereka untuk menerimanya. Otoritas sains diakui semata-mata karena daya tarik intrinsiknya bagi akal.
Pembebasan dari otoritas gereja mendorong tumbuhnya individualisme, bahkan sampai pada batas anarki. Disiplin, intelektual, moral dan politik oleh pikiran-pikiran manusia Renaisans diasosiasikan dengan filsafat skolastik dan kekuasaan gereja. Sementara itu, sains sebagai teknik sedang menciptakan sebuah pandangan dalam diri manusia praktis, yang sangat berbeda dari apapun yang dijumpai diantara para filosof teoritis. Teknik itu memberikan rasa kekuasaan tetapi kekuasaan yang disodorkan oleh teknik bersifat sosial, bukan individual. teknik ilmiah membutuhkan kerja sama banyak individu yang terorganisir oleh satu pimpinan. Oleh karena itu, teknik ilmiah cendrung menentang anarkisme dan bahkan individualisme, karena menuntut adanya sebuah struktur sosial yang terajut dengan baik. Berbeda dengan agama, teknik ilmiah secara etis tidak bersifat netral. Teknik ilmiah meyakinkan manusia bahwa mereka dapat membuat keajaiban-keajaiban, tetapi tidak memberitahu keajaiban-keajaiban apa yang harus dibuat.
Dunia kuno menyaksikan berakhirnya anarki di kerajaan romawi, tetapi kerajaan romawi merupakan fakta mentah, bukannya ide. Dunia katolik melihat berakhirnya anarki didalam gereja, yang merupakan ide tetapi tidak pernah secara memadai diwujudkan menjadi fakta. Jalan keluar yang ditwarkan zaman kuno dan pertengahan tidak memuaskan, pertama karena tidak bisa diidealisasikan dan kedua tidak bisa diaktualisasikan. Dunia moderen sekarang ini tampaknya sedang bergerak menciptakan jalan keluar seperti zaman kuno. Sebuah tatanan yang dipaksakan dengan kekuatan dan menunjukkan keinginan pihak-pihak yang kuat daripada harapan-harapan masyarakat awam.[12]


[1] Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2008)
[2] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: PT. Raja GrafindonPersada, 2007)
[3] Muhammad Adib, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010)
[4] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009)
[5] Suhar AM, Filsafat Umum, (Jakarta: Gunung Persada Press Jakarta, 2009). Hal 200
[6] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009)
[7] Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2008)
[8] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat, (Yogyakarta: Kanisius, 1980) hal.118
[9] Op cit.
[10] Conny R. Semiawan, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, (Bndung: Remaja RosdaKarya, 2004) hal 38
[11] Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004) hal 72
[12] Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007) hal 645

Post a Comment

3 Comments

  1. Replies
    1. makasih ats kunjunganx,, jgn bosan2 ya berkunjung,, :)

      Delete
  2. Gan mau nanya buku resume filsafat kr. Dr.ahmad tafsir itu masih ada gak ya ?? Mohon infonya

    ReplyDelete