Thursday, 6 March 2014

Hubungan teori Thorndike dengan proses pembelajaran



Bab I
Pendahuluan
a.       Latar belakang masalah
Proses belajar mengajar merupakan hal yang sering kita jumpai di setiap sekolah maupun di perguruan tinggi, dimana seorang guru dan dosen memberikan ilmu pengetahuannya kepada para siswa dan mahasiswanya, guna mampu menjadi orang-orang yang nantinya berkualitas secara dunia dan berkualitas secara akhirat. Tujuan utama dari proses belajar mengajar adalah
untuk mengajarkan hal-hal yang sebanarnya sudah di atur oleh pemerintang melalui kurikulum dan di kembangkan oleh setiap guru dan dosen. Untuk lebih terciptanya siswa dan mahasiswa yang lebih berkarakter, dan mampu menjadi generasi penerus bangsa yang ideal. Proses belajar tidak mungkin dapat mencapai hasil yang diharapkan tanpa disertai dengan proses belajar yang memadai, yang seimbang. Pengajar harus menciptakan suasananya, yang terdiri atas berbagai kompenen. Kemudian tersedia berbagai metode mengajar. Semua perlu persiapan, latihan dan evaliuasi. Dengan demikian para pengajar harus lebih meningkatkan mutu keterampilan dalam menunaikan propesinya.
Guru dan dosen merupakan pendidik yang akan mendidik peserta didik, dalam segi pengembangan ilmu pengetahuan guru dan dosen sangat berperan penting untuk membuka dan memperluas wawasan peserta didik. Guru dan dosen mengacu kepada kurikulum yang telah ditetapkan, dan setiap guru dan dosen wajib untuk mampu mengembangkan apa yang telah ditentukan didalam kurikulum. Agar bisa mudah untuk dipahami peserta didik. Apa bila semua berjalan dengan kaidah yang telah ditetapkan, maka akan menghasilkan sesuatu yang baik.

b.      Rumusan masalah
1.      Hubungan teori Thondike dengan proses pembelajaran ?

Bab II
Pembahasan
1.      Hubungan teori Thorndike dengan proses pembelajaran
Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan intruksional yang ingin di capai, materi yang di ajarkan.guru dan siswa harus memainkan peran serta ada dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, serta saran dan prasarana belajar mengajar yang tersedia. Tujuan belajar yang pencapainya diusahakan secara ekspilit dengan tindakan intruksionaltertentu di namakan intructional effect. Yang biasanya berbentuk pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan hasil pengiring yang tercapainya karena siswa “menghidupi” suatu sistem lingkungan belajar tertentu. Seperti kemampuan berpikir kritis dan kretif atau sikap terbuka menerima pendapat orang lain.
Untuk tercapainya tujuan-tujuan itu guru biasanya memiliki satu atau lebih strategi belajar-mengajar. Strategi belajar-mengajar adalah pola umum perbuatan guru-murid didalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar. Pengertian strategi dalam hal ini lebih menunjukan kepada karateristik abstrak dari rentetan perbuatan guru-murid di dalam peristiwa belajar-mengajar.
Metode mengajar adalah alat yang dapat merupakan bagian dari perangkat alat dan cara dalam pelaksanaaanya suatu strategi belajar-mengajar. Dan karena strategi belajar-mengajar merupakan sarana atau alat untuk mencapai tujuan-tujuan belajar, maka metode mengajar merupakan alat pula untuk mencapai tujuan belajar.
a.      Klasifikasi strategi belajar mengajar
Ada beberapa dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan strategi belajar-mengajar. Di bawah ini dikemukan beberapa diantaranya yang dapat di gunakan sebagai kerangka acuan untuk memahami, dan pada giliranya untuk dapat memiliki secara lebih tepat serta mengunakan secara lebih efektif didalam penciptaan sistem lingkungan belajar-mengajar.
1.      Pengaturan guru dan siswa
Dari segi pengaturan guru dapat di bedakan pengajar oleh seorang guru arau oleh tim, selanjutnya dapat pula di bedakan apakah hubungan guru-murid terjadi secara tetap muka ataukah dengan perantara media.
2.      Struktur peristiwa belajar-mengajar
Struktur pristiwa belajar-mengajar dapat bersipat tertutup, dalam arti segala sesuatu telah ditentukan secara relatif,ketat ; dapat juga bersipat terbuka, dalam arti tujuan khusus, materi, serta prosedur yang akan ditempuh untuk mencapainya ditentukan sementara kegiatan belajar-mengajar berlangsung.

3.      Peranan guru-guru murid dalam mengelola pesan
Pengajar yang menyampaikan pesan dalam keadaan “ telah siap” (tidak diolah secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan)
4.      Proses pengelohan pesan
Pristiwa belajar-mengajar dibagi 2 khusus dan umum (deduktif dan induktif).
5.      Tujuan belajar
Kondisi-kondisi belajar tertentu sehingga dari padanya dapat di jabarkan strategi-strategi belajar mengajar yang sesuai.
6.      Pengklasifikasi yang lebih komprehensif
Yang terdiri atas empat famili model mengajar, model interaksi sosial, model pengelolaan informasi, model personal humanistik, model modifikasi tingkah laku.
b.      Hakikat cara belajar siswa aktif
Cara belajar siswa aktif (CBSA) bukan merupakan barang baru dalam dunia pendidikan. Belajar dengan sendirinya dalam bentuk keaktifan siswa walaupun, tentu saja dalam derajat yang berbeda-beda. Selanjutnya keaktifan itu dapat mengambil bentuk yang beraneka ragam seperti, mendengarkan (ceramah), mendiskusikan, membuat sesuatu, menulis laporan, dan sebainya. Salah satu cara untuk meninjau derajat ke-CBSA-an di dalam pristiwa belajar mengajar adalah dengan mengkonsepsikan rentangan antara dua kutub gaya belajar. Untuk peningkatan CBSA harus dapat diberi penalaran. Dalam hubungan ini, rasional yang paling menadasar, dapat di pulanhgkan kepada hakikat dan tujuan pendidikan itu sendiri. Untuk mampu menunaikan misinya didalam dunia yang secara radikal selalu berubah itu, maka semua warga masyarakat secara perseorangan harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kemampuan, kemauan, serta kebiasaan untuk terus menerus belajar dalam arti yang hakiki. Wawasan tentang pendidikan sebagai proses belajar sepanjang hanya menekankan pentingnya pergeseran tanggung jawab belajar kearah siswa sehingga perancangan dan implementasi kegiatan belajar mengajar harus di landasi oleh pengkonsepsien keseimbangan antara otoritas pendidik dengan kedaulatan subjek didik. Implementasi CBSA menyarankan perubahan perencanaan dan pelaksanaan penyajian kegiatan belajar-mengajar yang cukup mendasar. Pengalaman belajar yang di berikan kepada calon guru atau instrutor hendaknya jangan memisahkan komponen akademik dengan komponen propesional, jangan di ceraikan teori dari prekteknya.
c.       Beberapa metode pembelajaran
1.      Metode ceramah
menyampaikan bahan pembelajaran dengan kominikasi lisan. Metode ceramah ekonomis dan efektif untuk keperluan penyampaian informasi dan pengertian. Kelemahannya adalah bahwa siswa cenderung pasif, pengaturan kecepatan secara klasikel ditentukan oleh pengajar, kurang cocok untuk pembentukan keterampilan dari sikap dan cenderung menempatkan pengajar sebagai otoritas terakhir.
2.      Metode tanya jawab
Dalam proses belajang pembelajaran, bertanya memang peran yang penting, sebab pertanyaan yang tersusun baik dengan teknik pengajuan yang tepat akan, meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar, membangkitkan minat dan rasa ingin tahu, mengembangkan pola berpikir dan belajar aktif siswa, menuntun proses berpikir siswa, memusatkan perhatian murid terhadap masalah yang di bahas.
3.      Metode didkusi
Diskusi ialah suatu proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadap muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar-menukar informasi, mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah.
4.      Metode kerja kelompok
Kerja kelompok adalah salah satu strategi belajar-mengajar yang memiliki kadar CBSA. Tetapi pelaksanaannya menurut kondisi serta persiapan yang jauh berbeda dengan format belajar-mengajar yang menggunakan pendekatan ekspositrik.
5.      Simulasi
Simulasi adalah tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura saja.

6.      Metode demontrasi
Metode ini merupakan metode yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertayaan. Demontrasi sebagai metode mengajar adalah bahwa seorang guru, atau seorang demonstrator ( orang luar yang sengaja di minta) metode ini wajar digunakan untuk bisa mengetahui bagaimana cara membuatnya, terdiri dari bahan apa, bagaimana cara pengaturanya, bagaimana proses bekerjanya, dan bagaimana prose mengerjakannya.
d.      Tahap-tahap pembelajaran
1.      Tahap sebelum pembelajaran
Dalam tahab ini guru harus menyusun program tahunan pelaksanaan kurikulum, program smester atau catu wulan pelaksanaan kurikulum, program satuan pelajaran dan perencanaan program mengajar. Dalam merancang program perlu di pertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan. Seperti, bekal bawaan yang ada pada siswa, perumusan tujuan pelajaran, pemilihan metode, pemilihan pengalaman-pengalaman belajar, pemilihan bahan ajaran, peralatan, dan fasilitas belajar, mempertimbangkan karakteristik siswa, cara pembukaan belajar mengembangkan dan menutup pembelajaran.
2.      Tahap pengajaran
Dalam tahap ini berlangsung interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswi yang lainya. Ada beberapa aspek yang harus menjadi pertimbangan dalam tahap pembelajaran. Pengelolaan dan pengendalian kelas, penyampaiaan informasi, penggunaan tingkah laku verbal, mempertimbangkan prinsip-prinsip psikologi, mendiaknosa kesulitan belajar, menyajiakan kegiatan yang berhubungan dengan perbedaan individual, dan mengevaluasi kegiatan.
3.      Tahap sesudah pengajaran
Tahap ini merupakan kegiatan atau perbuatan setelah pertemuan tatap muka dengan siswa. Beberapa perbuatan guru yang nampak pada tahab sesudah mengajar. Seperti, menilai pekerjaan siswa, membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya, dan menilai kembali proses belajar yang telah berlangsung, ketiga tahap pengajaran tersebut harus mencerminkan hasil belajar yang kognitif, efektif, dan psikomotor.

Bab III
Penutup
a.      Kesimpulan
Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan intruksional yang ingin di capai, materi yang di ajarkan.guru dan siswa harus memainkan peran serta ada dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, serta saran dan prasarana belajar mengajar yang tersedia. Tujuan belajar yang pencapainya diusahakan secara ekspilit dengan tindakan intruksionaltertentu di namakan intructional effect. Yang biasanya berbentuk pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan hasil pengiring yang tercapainya karena siswa “menghidupi” suatu sistem lingkungan belajar tertentu. Seperti kemampuan berpikir kritis dan kretif atau sikap terbuka menerima pendapat orang lain. Untuk tercapainya tujuan-tujuan itu guru biasanya memiliki satu atau lebih strategi belajar-mengajar. Strategi belajar-mengajar adalah pola umum perbuatan guru-murid didalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar


Daftar pustaka
Dirto Hadi Susanti dkk., 1990, Metode diskusi, Jakarta, P3G, Depertemen P dan K
Raka Joni T., 1980, Cara Belajar Siswa Aktif, Jakarta
Hasibuan JJ, 2009. Proses Belajar Mengajar. Bandung, PT Remaja Rosdakarya

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2013 Info Pendidikan All Right Reserved