Saturday, 17 May 2014

Mendesain Pembelajaran Agar Lebih Menarik



MENDESAIN PEMBELAJARAN 
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa. Untuk membelajarkan seseoramg, di perlukan kebijakan teori dan desain pengajaran agar apa yang di lakukan oleh pengajar berhasil dengan baik.

Ada beberapa langkah agar dapat mendesain pembelajaran dengan baik. Meng identifikasi tujuan umum pembelajaran, melakukan analisis pembelajaran, mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik maha siswa, merumuskan tujuan porfermasi, mengembangkan butiran-butiran tes acuan patokan, mengembangkan dan memilih material pembelajaran, mendsain dan melaksanakan evaluasi formatif, merevisi bahan pembelajaran, mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang harus dilakukan pengajar agar dapat mendesain pengajaran ?
2.      Bagaimana cara mendsain pengajaran dengan baik, agar semua tujuan dapat tercapai dengan baik ?
3.      Mengapa pengajar harus dapat mendesain pengajaran dengan baik ?
4.     Apakah yang harus di lakukan pengajar dalam memeraktekkan desain pengajarannya?






BAB II
PEMBAHASAN


A.     KEMAMPUAN GURU DALAM MENDESAIN PEMBELAJARAN
Spencer and spencer mendefinisikan kemampuan sebagai karaktiristik uang menonjol dari seorang individu yang berhubungan dengan kinerja efektif dan/atau superior dalam suatu pekerjaan atau situasi. R.m. guion dalam spencer and spencer mendefinisikan kemampuan atau kompetensi sebagai karakteristik yang menonjol bagi seseorang dan mengidikasikan cara-cara berperilaku atau berpikir dalam segala situasi, dan berlangsung terus dalam periode waktu lama. Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa kemampuan merujuk pada kinerja seseorang dalam suatu pekerjaan yang bisa dilihat dari pikiran, sikap, dan perilakunya. Lebih lanjut spencer and spencer membagi lima karakteristik kompetensi sebagai berikut.
1.      Motif
Motif adalah suatu yang orang pikirkan dan inginkan yang menyebabkan sesuatu. Contoh, orang yang termotifasi dengan prestasi akan mengatasi segala hambatan untuk mencapai tujuan, dan tanggung jawab melaksanakannya.
2.      Sifat. Sifat adalah ksrakteristik fisik tanggapan konsisten terhadap situasi atau informasi. Contoh, penglihatan yang baik adalah kompetensi sifat fisik seorang pilot.
3.      Konsep diri. Konsep diri adalah sikap, nilai, dan image diri seseorang. Contoh, kepercayaan diri ataubkeyakinan seseorang agar dia menjadi efektif dalam semua situasi adalah bagian dari konsep diri.
4.      Pengetahuan. Pengetahuan adalah informasi yang seseorang miliki dalam bidang tertentu.
5.      Keterampilan. Keterampilan adalah kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan fisik dan mental.

     Mereka juga mengkategorikan komptensi ke dalam dua bagian, yaitu; threshold competences dan differentiating competence. Threshold competences adalah karakteristik esensial (biasanya pengetahuan atau keterampilan dasar, seperti kemampuan membaca) yang seseorang butuhkan untuk menjadi efektif dalam suatu pekerjaan, tetapi bukan untuk membedakan pelaku superior dari yang rata-rata. Contoh, pengetahuan pedagang tentang produk atau kemampuan mengisi faktur. Differentiating competence membedakan pelaku yang superior dari yang biasanya. Contoh orientasi prestasi yang diekspresikan dalam tujuan seseorang adalah lebih tinggi dari yang dikehendaki oleh organisasi.
Perbedaan pokok antara profesi guru dengan profesi lainnya adalah terletak pada tugas dan tanggung jawabnya. Tugas dan tanggung jawab tersebut erat kaitanya dengan kemampuan yang disyaratkan untuk memangku profesitersebut. Kemampuan dasar tersebut tidak lain  adalah kompetensi guru.
Charles E. jhonshons mengemukakan bahwa kemampuan merupakan perilaku yang rasional untuk mencapia tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Menurut crow  dan crow kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran meliputi:
a.       Penguasaan subject-matter yang akan di ajarkan.
b.       Keadaan fisik dan kesehatannya.
c.       Sifat-sifat pribadi dan control emosinya.
d.      Memeahami sifat- hakikat dan perkembangan manusia.
e.       Pengetahuan dan kemampuannya untuk menerapkan prinsip-prinsip belajar.
f.       Kepekaan dan aspirasinya terhadap kebudayaan, Agama, dan etnis.
g.      Minatnya terhadap perbaikan professional dan pengayaan kultural yang terus-menerus dilakukan.

1.      Pentingnya disain pembelajaran
Menurut mudhafir (1990) system dapat di artikan sebagai suatu kesatuan unsur-insur yang saling berintegrasi dan berinteraksi secara fungsional yang memproses masukan menjadi keluaran. Sedangkan ciri-cirinya lain:
1.              Ada tujuaan yang ingin di capai.
2.              Ada fungsi-fungsi untuk mencapai tujuan.
3.              Ada komponen yang melaksanakan fungsi-fungsi tersebut .
4.              Ada interaksi antar komponen.
5.              Ada penggabungan yang menimbulkan jalinan keterpaduan.
6.              Ada peroses trasformasi.
7.              Ada proses balikan untuk perbaikan.
8.              Ada daerah batasan dan lingkungan.
2.      Pengertian disain pembelajaran

Ada beberapa definisi tentang perencanaan yang rumusannya berbeda  antara satu dengan yang lain. Chunningham misalnya mengemukakan bahwa perencanaan itu ialah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta , imajinasi dan asumsi untuk masa yang akan datangdengan tujuan memvisualisasi Dan memformulasi hasil yang di inginkan, urutan kegiatan yang di perlukan, dan prilaku dalam batas-batas yang dapat di terima yang akan di gunakan dalam penyelesaian.
Definisi yang kedua mengemukakan bahwa perencanaan adalah hubungan antara apa yang ada sekarang (what is ) dengan bagaimana sehaarusnya (what should be ) yang bertalian dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program dan alokasi sumber. Bagaimana seharusnya adalah mengacu pada masa yang akan dating. Perencanaan disini menekankan pada usaha mengisi kesenjangan antara keadaan sekarang dengan keadaan yang akan datang yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan, ialah menghilangkan jarak antara keadaan sekarang dengan keadaan mendatang yang diinginkan.
Sementara itu definisi yang lain bahwa perencanaan ialah suatu cara untuk mengantisipasi dan menyeimbangkan perubahan.
Ketiga definisi diatas telah memperlihatkan tekanan dan rumusan yang berbeda. Yang satu mencari wujud yang akan datang serta usaha untuk mencapainya, yang lainnya menghilangkan kesenjangan antara keadaan masa sekarang dengan masa yang akan datang, dan yang satu lagi merubah keadaan agar sejalan dengan keadaan lingkungan yang juga berubah.
Berdasaarkan rumusan diatas,  maka dapat dibuat suatu rumusan baru tentang apa itu perencanaan, yakni suatu cara yang memuaskan untuk membuat suatu kegiatan dapat berbajal dengan baik, serta dengan berbagai langkah yang antisifasif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

B.     PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Pembelajaran  atau pengajaran menurut Degeng adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran.

Dasar perlunya perencanaan pembelajaran

Perlunya perencanaan pembelajaran sebagaimana disebutkan di atas, dimaksudkan agar dapat di capai perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini di lakukan dengan asumsi sebagai berikut. Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu di awali dengan perencanaan pembelajaran yang di wujudkan dengan adanya desain pembelajaran. Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan system. Perencanaan desain pembelajaran di acukan pada bagaimana seseorang belajar untuk merencanakan suatu desain pembelajaran di acukan pada siswa secara perorangan. Pembelajaran yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hal ini akanada tujuan langsung pembelajaran, dan tujuan pengiring dari pembelajaran. Sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah mudahnya siswa untuk belajar. Perencanaan pembelajaran harus melibatkan semua variable pembelajaran. Inti dari desain pembelajaran yang dibuat adalah penetapan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
1.      Perbaikan kualitas pembelajaran
Perbaikan kualitas pembelajaran  haruslah diawali dengan perbaikan desain pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Hal ini dimungkinkan karena dalam desain pembelajaran, tahapan yang akan dilakukan oleh guru atau dosen dalam mengajar telah terancang dengan baik, mulai dari mengadakan analisis dari tujuan pembelajaran sampai dengan pelaksanaan evaluasa sumatif yang tujuannya untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2.      Pembelajaran dirancang dengan pendekatan system
          Untuk mencapai kualitas pembelajaran, maka desain pembelajaran yang dilakukan haruslah di dasarkan pada pendekatan system. Hal ini di dasri bahwa dengan pendekatan system akan memberikan peluang yang lebih besar dalam mengitegrasikan semua variable yang memengruhi belajar, termasuk keterkaitan antarvariabel pengajaran, yakni variable kondisi pembelajaran, variable metode, dan variable hasil pembelajaran.

3.     Desain pembelajaran mengacu pada bagaimana seseorang belajar
           Kualitas pembelajaran juga banyak tergantung pada bagaimana pembelajaran itu dirancang. Rancangan pembelajaran biasanya dibuat berdasarkan pendekatan perancangannya. Apakah bersifat intuitif atau bersifat ilmiah. Jika bersifat intuitif, maka rancangan pembelajaran tersebut banyak diwarnai oleh kehendak perancangnya. Akan tetapi, jika dibuat berdasarkan pendekatan ilmiah, maka rancangan pembelajaran tersebut diwarnai oleh berbagai teori yang dikemukakan oleh para ilmuan pembelajaran. Disamping itu, pendekatan lain adalah pembuatan rancangan pembelajaran bersifat intuitif ilmiah yang merupakan paduan antara keduanya sehingga rancangan pembelajaran yang dihasilkan disesuaikan dengan pengalaman empiris yang pernah ditemukan pada saat melaksanakan pembelajaran yang dikembangkan pula dengan penggunaan teori-teori yang relevan. Berdasarkan tiga pendekatan ini, maka pendekatan intuitif ilmiah akan dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih sahih dari dua pendekatan lainnya, apabila digunakan secara terpisah. Berbagai teori yang telah dikembangkan mengenai belajar, misalnya teori behavioristic yang menekankan pada perilaku yang tmpak sebagai hasil belajar. Teori pengelolaan informasi yang menekankan pada bagaimana suatu informasi itu diolah dan disimpan dalam ingatan. Teori ketiga terpijak pada psikologi kongnitif yang memandang bahwa proses belajar adalah mengaitkan pengetahuan baru ke struktur pengetahuan yang sudah dimiliki siswa, dan hasil belajar akan berupa terbentuknya struktur pengetahuan yang baru yang lebih lengkap.
4.    Desain pembalajaran diacukan pada siswa perorangan
        Seseorang dalam belajar memiliki potensi yang perlu dikembangkan. Tindakan  atau perilaku belajar dapat ditata atau dipengaruhi, tetapi tindakan atau perilaku belajar itu akan tetap berjalan sesuai dengan karakteristik siswa. Siswa yang lambat dalam berfikir, tidak mungkin dipaksa dalam bertindak secara cepat. Sebaliknya, siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi tidak mungkin dipaksa bertindak dengan cara lambat. Dalam hal ini, jika perencanaan pembelajaran tidak diacukan pada individu yang belajar seperti ini, maka besar kemungkinan bahwa siswa yang lambat belajar akan makin tertinggal. Akibatnya proses pembelajaran dalam suatu kelompok tertentu akan banyak mengalami hambatan karena perbedaan karakteristik siswa yang diperhatikan.
5.   Desain pembelajaran harus diacukan pada tujuan
        Hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan hasil tak langsung ( pengiring ). Perancangan pembelajaran perlu memilah hasil pembelajaran yang langsung dapat di ukur setelah selesai pelaksanaan pembelajaran, dan hasil pembelajaran yang dapat terukur setelah melalui keseluruhan proses pembelajaran, atau hasil pengiring.
6.   Desain pembelajaran diarahkan pada kemudahan belajar
Dengan desain pembelajaran, setiap kegiatan yang di lakukan guru dapat terencana, dan guru dapat dengan mudah melakukan kegiatan pembelajaran. Jika hal ini di lakukan dengan baik, maka sudah tentu sasaran akhir dari pembelajaran, yaitu terjadinya kemudahan belajar siswa dapat di capai.
7.      Desain pembelajaran melibatkan variable pembelajaran
Desain pembelajaran diupayakan mencakup semua variable pengajaran yang di rasa turut memenuhi belajar. Ada tiga variable pembelajaran yang perlu di pertimbangkan dalam merancang pembelajaran ketiga variable tersebut adalah kondisi, metode, dan hasil pembelajaran.
8.      Desain pembelajaran penetapan metode untuk mencapai tujuan
Ada tiga perinsip yang perlu di pertimbangkan dalam upaya menetapkan metode belajaran. Ketiga perinsip tersebut adalah:
a.       Tidak ada satu metode pembelajaran yang unggul untuk semua tujuan dari semua kondisi.
b.      Metode (strategi) pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda dan konsisten pada hasil pembelajaran.
c.       Kondisi pembelajaran yang berbeda bisa memiliki pengaruh yang konsisten pada hasil pengajaran.
C.     LANGKAH-LANGKAH MENDESAIN PEMBELAJARAN
Berbagai mdel dapat di kembangkan dalam mengorganisasi pembelajaran. Salah satu di antarannya adalah model dick and caray (1945 ) dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1.    Mengidentifikasi tujuan umum pengajaran.
Kita ketahui bahwa sasaran akhir dari suatu program pembelajaran tercapainya tujuan umum pembelajaran tersebut. Tujuan pengajaran adalah untuk menentukan apa yang dapat di lakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
2.    Melaksanakan analisis pengajaran.
Dengan ini pembelajaran akan di identifikasi keterampilan-keterampilan bawahan (sub ordinate skills). Jadi posisi analisis pembelajaran dalam keseluruhan desain pembelajaran merupakan prasyarat, sebagai perilaku yang menurut urutan gerak fisik berlangsung lebih dahulu, prilaku yang menurut proses psikologis muncul lebih dahulu atau secara kronologis terjadi lebih awal sehingga analisis ini merupakan acuan dasar dalam melanjutkan langkah-langkah desain berikutnya.
3.    Meng identifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa.
Dengan ini sangat perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas perseorangan untuk dapat di jadikan sebagai petunjuk dalam mempreskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran.
4.    Merumuskan tujuan performansi.
Dick and carey (1985) mneyatakan bahwa tujuan performasi terdiri dari :
a.       Tujuan harus menguraikan apa yang akan dapat dikerjakan oleh anak didik.
b.      Menyebutkan tujuan, memberi kondisi atau keadaan yang menjadi syarat yang hadir pada waktu anak didk berbuat.
c.       Menyebutkan kreteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksudkan dalam tujuan.
5.    Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan.
Tes acuan patokan terdiri atas soal-soal yang secara langsung mengukur istilah patokan yang di deskripsikan dalam suatu pernagkap tujuan khusus.dan hasil tes tersebut berguna untuk;
a.       Mendiagnosis dan menempatkan dalam kurikulum.
b.      Mencek hasil belajar dan menemukan kesalahan pengertian sehingga dapat diberikan pengajaran remedial.
c.       Menjadi dokumen kemajuan belajar.
d.      Mengembangkan strategi pengajaran.

Komponen strategi pembelajaran terdiri dari:
1).  Kegiatan pra pembelajaran.
2).  Penyajian informasi.
3).  Peran serta mahasiswa
4).  Pengetesan.
5).  Kegiatan tindak lanjut.
6).  Mengembangkan dan memilih material pembelajaran.
7).  Mendsain dan melaksanakan evaluasi formatif.
8).  Merevisi bahan pembelajaran.
10). Mendsain dan melaksanakan evaluasi sumatif.





BAB III
PENUTUP


A.     SIMPULAN

Desain pengajaran dalam proses belajar- mengajar adalah metode yang sangat membantu ketertarikan dan pengertian siswa atau mahasiswa  dalam menimba ilmu. Dengan adanya desain pengajaran yang baik siswa dan mahasiswa dapat menjadi sepaerti yang pendidik inginkan, akantetapi siswa atau mahasiswa juga harus memiliki hamasyah/semangat yang tinggi untuk mencari ilmu karena dengan tidak adanya ketidak keinginan atau semangat untuk belajar atau mencari ilmu bagaimanapun cara pengajar menyampaikan, mendesain pengajaran dll, maka tidak aka nada pengaruh untuk menjadikannya siswa atau mahasiswa seperti yang di harapkan.

B.     Kritik Dan Saran

Tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Rosulullah SAW.  Dan sesungguhnya kesempurnaan itu hanya milik Allah semata.  Maka dari itu sangat di harapkan kritik dan saran para pembaca yang di rahmati Allah. Agar dapat tercapai visi dan misi dalam penulisan makalah ini sebagai tambahan ilmu pengetahuan baru dalam bidang pendidikan. Dan atas perhatian dan kepeduliannya kami ucapkan jazakumullah khoyron katsiron.

DAFTAR RUJUKAN


Uno, Hamzah B., Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2010

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2013 Info Pendidikan All Right Reserved